Rindu Sang Murabbi, Perjalanan Dakwah KH. Rahmat Abdullah

Rahmat Abdullah telah pergi merengkuh takdir sejarahnya justru ketika dakwah ini sedang memasuki babak baru dengan tantangan-tantangan baru. Menghabiskan seluruh usia produktifnya dalam perjalanan dakwah, Rahmat Abdullah telah meninggalkan ruang kosong yang besar : simbol spiritualisme dakwah kita yang selalu menghadirkan cinta dalam semua kerja dakwah. Para pecinta adalah pemilik ruh yang lembut : lembut seluruh hidupnya, lembut cara perginya. (Anis Matta : Rahmat Abdullah Simbol Spiritualisme Dakwah Kita).

USTADZ Rahmat begitu ia kerap dipanggil murid-muridnya pernah digelari “Syaikh Tarbiyah” (Sang Guru/Pembina) oleh sebuah Majalah Islam Nasional di tahun 2001 ( majalah sabili) itulah momen peringatan 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia yang telah melahirkan komunitas Tarbiyah.

Sekilas Biografi ustadz Rahmat Abdullah, Rahmat Abdullah lahir dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah, sebuah keluarga sederhana yang tinggal di Bilangan Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Ia lahir pada tanggal 3 Juli 1953 sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Abdullah kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Pada usia 11 tahun, ia sudah berstatus yatim karena ayahnya telah meninggal.

Pendidikannya berawal dari didikan orang tuanya yang diikuti pendidikan formal di Perguruan Asy Syafi’iyah asuhan KH. Abdullah Syafi’I seorang yang dikaguminya. Di Asy Syafi’iyah Abdullah belajar tentang ushul fiqh, mustalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan disamping tetap belajar ilmu nahwu,sharf dan balaghah.Pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan parra masyaikh (kyai). Dan di Asy Syafi’iyah Abdullah menamatkan sekolah hingga tingkat Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Selepas Aliyah, ia melanjutkan pendidikannya dengan belajar pada beberapa ulama (salah satunya kepada Bakir Said Abduh) sambil menjalankan berbagai aktivitas dakwah dan sosialnya. Di usia 31 Tahun, Abdullah mempersunting seorang muslimah bernama Sumarni. Pernikahannya dilaksanakan pada 17 September 1984. Dari pernikahan itu, pasangan Rahmat Abdullah dan Sumarni dikaruniai 7 orang putra-putri. Shafwatul Fida, Muhammad Thariq Audah, Nusaibatul Hima, Isda Ilahia, Umaimatul Wafa, Majdi HafidzurRahman, dan Hasan Fakhru Akhmadi.

Menurut KH. Kholil Ridwan ketua MUI Pusat walaupun bukan tamatan Timur Tengah Abdullah memiliki ilmu yang lebih mendalam dari mereka yang lulusan Timur Tengah. Salah satu guru Rahmat Abdullah adalah ustadz Baqir Said seorang kyai Betawi yang pernah nyantri di Gontor dan kemudian melanjutkan kuliah di Mesir. Setelah ustadz Said meninggal karena sakit Abdullah lah yang banyak mewarisi buku-buku ustadz Said dan juga dianggap mewarisi keilmuan dan ide-ide perjuangan ideologi ustadz Said.

Ketekunan dan kerjakerasnya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keIslaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel sang Ustadz. Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian dari dirinya. Ia gemar membuat produk-produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama.

Oleh karena itulah banyak orang cenderung menjulukinya sebagai seorang “budayawan”. Selain itu aktifitas Rahmat Abdullah pada saat itu bersama anak-anak muda, seniman bahkan preman adalah membentuk wadah seni teater yang sering dipentaskan di lapangan depan masjid Raudhatul Falah belakang Kedutaan Besar Malaysia.

Di tempat ini selain mementaskan teater juga Abdullah sering membawakan syair dan puisi. Ada hal yang menarik pada salah satu pertunjukkan teater pada tahun 1984 dimana saat itu teater drama terbuka dengan judul Perang Yarmurk yang juga turut dimainkan bersama Abdullah Hehamahua dikepung intel karena dianggap subversif terhadap pemerintah berkuasa saat itu rezim Orde Baru. Dan pacsa pementasan Abdullah dipanggil untuk menghadap Kodim.

Pada pertengahan tahun 1980an Rahmat Abdullah mulai bergabung dengan gerakan Islam yang pada saat itu mulai tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama rekan-rekannya Abu Ridho dan Hilmi Aminudin, Rahmat Abdullah mulai merintis gerakan da’wah yang terinspirasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir. Di komunitas barunya ini kemudian Rahmat Abdullah lebih banyak berkecimpung dan menghabiskan waktunya.

Dengan bermodalkan sepeda motor tua Honda tahun 1966 atau disebut motor chip, ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus, menyebarkan fikrah (nilai-nilai) Islamiyah yang shahih (benar) dan syamil (sempurna). Dan pemikiran-pemikiran tentang Islam yang disampaikan oleh Rahmat Abdullah dan rekan-rekannya itu ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian dikenal menjadi komunitas Tarbiyah.

Melihat dan membaca kembali tentang sosok almarhum ustadz Rahmat Abdullah baik kepribadiannya dan peran peran dakwah dan social kemasyarakatannya semasa hidupnya Empower Indonesia Pictures berkolaborasi dengan Warna Pictures memproduksi film dokumenter tentang ustadz Rahmat Abdullah dengan judul “Rindu Sang Murabbi” sebagai upaya untuk mengenang dan menghidupkan kembali spirit dan semangat dakwah dan perjalanan hidup sosok yang penuh inspirasi ini ke dalam bentuk film Biopic Ustadz Rahmat Abdullah. 

Jumlah Pasien DBD Mulai Melonjak di RSUD Ungaran

UNGARAN – Pasien demam berdarah dengue (DBD) yang dirawat di RSUD Ungaran beberapa hari ini jumlahnya melonjak. Penderita didominasi balita dan anak-anak.

Dari data diketahui, Desember 2015 ada 45 kasus DBD yang ditangani, sedangkan Januari 2016 hingga awal Februari 2016 ada 89 kasus DBD. “Bulan ini terjadi peningkatan hampir dua kali lipat. Hanya saja belum ada pengumuman kejadian luar biasa (KLB),” kata Direktur RSUD Ungaran dr Setya Pinardi, Kamis (4/2).

Beberapa pasien sudah dirujuk ke rumah sakit di Kota Semarang. Hal itu disebabkan kondisi pasien mengalami demam cukup tinggi. Di samping itu, dr Pinardi memaparkan, kapasitas tempat tidur pasien di RSUD Ungaran saat ini hanya 187 buah. Walaupun ada keterbatasan kamar serta tempat tidur pasien, pihaknya menyatakan siap mengantisipasi bilamana Pemkab Semarang menyatakan KLB DBD. “RSUD Ungaran hanya berkapasitas 187 tempat tidur, kalau penuh ya kebijakannya pasien harus dirujuk ke rumah sakit yang masih ada tempat tidur kosong,” imbuhnya.

Suratmi (40), ibu dari Maria Anastasia (10) salah satu pasien DBD yang dirawat di RSUD Ungaran menerangkan, anaknya yang bersekolah di SDN Beji Ungaran Timur tersebut harus menjalani perawatan karena demam tinggi. “Baru sehari dirawat di sini. Setahu saya di Beji sudah banyak yang kena DBD,” terangnya. Orang tua pasien Diki Dwi Pristian (3), Septi Eni (29) warga Kalongan, Ungaran Timur menambahkan, kondisi anaknya yang terindikasi terkena DBD sudah berangsur membaik setelah melakukan transfusi darah. “Ini sudah membaik setelah dirawat lima hari. Kepastian DBD diketahui usai pemeriksaan darah di laboratorium,” tandasnya. (suaramerdeka)

Beramal Islami di Dalam dan Melalui Jamaah

Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencintai
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu
M. Iqbal


Itulah beberapa bait dari sajak doa iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada kesaksiannya atas zamannya: umat ini seperti daun daun yang berhamburan. Seperti daun daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut pada pohonnya.

Begitulah kenyataan umat ini: mungkin banyak orang salih diantara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah bernama jamaah, mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu diantara mereka, tapi semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.

Maka, jamaah adalah alat yang diberikan Islam bagi umatnya untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, supaya padu dengan kekuatan setiap orang shalih, orang hebat atau satu potensi bertemu pada dengan kekuatan saudaranya yang lain, yang sama shalihnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.

Jamaah juga merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan individu. Di dalam satu jamaah, individu-individu yang mempunyai kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka, meskipun ada banyak jamaah, itu tetap lebih baik dari pada tidak sama sekali. Bagaimanapun, jauh lebih mudah memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul-simpulnya, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.

Maka jalan panjang menuju kebangkitan umat ini harus dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta diantara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian meledakkannya pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Tapi, itulah masalahnya. Ternyata, itu bukan pekerjaan yang mudah; ternyata, cinta tidak mudah ditumbuhkan diantara mereka; ternyata, orang shalih tidak mudah disatukan; ternyata, orang hebat tidak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat yang lain. Mungkin itu sebabnya, ada ungkapan di kalangan gangster mafia: seorang prajurit yang bodoh, kadang-kadang lebih berguna daripada dua orang jenderal yang hebat. Namun, tidak ada jalan lain. Nabi umat ini tidak akan pernah memaafkan setiap orang diantara kita yang meninggalkan jama'ah, semata-mata karena ia tidak menemukan kecocokan bersama orang lain dalam jama'ahnya. Bagaimanapun, kekeruhan jama'ah, kata imam Ali bin Abi thalib r.a jauh lebih baik dari pada kejernihan individu.

Dari Individu ke Jamaah
Orang-orang shalih diantara kita harus menyadari bahwa tidak banyak yang ia berikan atau sumbangkan untuk Islam kecuali kalau ia bekerja di dalam dan melalui jama'ah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain; bahwa tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya; bahwa kecerdasan individual tidak pernah dapat mengalahkan kecerdasan kolektif. Bekerja di dalam dan melalui jamaah tidak hanya terkait dengan fitrah sosial kita, tapi terutama terkait dengan kebutuhan kita untuk menjadi lebih efisien, efektif, dan produktif.

Ada juga alasan lain. Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan didalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien dan produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.

Jadi kebutuhan setiap individu muslim untuk bekerja atau beramal Islami di dalam dan melalui jama'ah, bukan saja lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitasnya, tapi juga lahir dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal Islami pada level yang setara dengan tantangan zaman kita.

Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri tanpa organisasi, dan kalau ada biasanya tanpa manajemen.

Pilihan untuk bekerja dan beramal Islami di dalam dan melalui jama'ah, hanya lahir dari kesadaran mendalam seperti ini. Namun, kesadaran ini saja tidak cukup. Ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat bekerja lebih efektif, efisien, dan produktif dalam kehidupan berjama'ah.

1. Kesadaran bahwa kita hanyalah bagian dari fungsi pencapaian tujuan. Jama'ah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar: jama'ah bekerja dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Di dalam strategi besar itu, individu harus ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapainya.

Jadi, sehebat apapun seorang individu, bahkan sebesar apapun kontribusinya, dia tidak boleh merasa lebih besar dari pada strategi dimana ia merupakan salah satu bagiannya. Begitu ada individu yang merasa lebih besar dari strategi jama'ah, strategi itu akan berantakan. Untuk itu, setiap individu harus memiliki kerendahan hati yang tulus.

2. Semangat memberi yang mengalahkan semangat menerima. Dalam kehidupan berjama'ah terjadi proses memberi dan menerima. Namun, jika pada sebagian besar proses kita selalu pada posisi menerima, secara perlahan kita "mengonsumsi" kebaikan-kebaikan orang lain hingga habis. Itu tidak akan pernah mampu melanggengkan hubungan individu dalam sebuah jama'ah. Betapa bijak nasihat KH. Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah, "Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah."

3. Kesiapan untuk menjadi tentara yang kreatif. Pusat stabilitas dalam jama'ah adalah kepemimpinan yang kuat. Namun, seorang pemimpin hanya akan menjadi efektif apabila ia mempunyai prajurit-prajurit yang taat dan setia. Ketaatan dan kesetiaan adalah inti keprajuritan. Begitu kita bergabung dalam sebuah jama'ah, kita harus bersiap untuk menjadi taat dan setia. Akan tetapi, ruang lingkup amal Islami yang sangat luas membutuhkan manusia-manusia kreatif, dan kreativitas tidak bertentangan dengan ketaatan dan kesetiaan. Jadi, kita harus menggabungkan ketaatan dan kreativitas; ketaatan lahir dari kedisiplinan dan komitmen, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan kelincahan. Hal itu merupakan perpaduan yang indah.

4. Berorientasi pada karya, bukan pada posisi. Jebakan terbesar yang dapat menjerumuskan kita dalam kehidupan berjama'ah adalah posisi struktural. Jama'ah hanyalah wadah bagi kita untuk beramal. Maka kita harus selalu berorientasi pada amal dan karya yang menjadi tujuan utama kita berjama'ah, dan memandang posisi struktural sebagai perkara sampingan saja. Dengan begitu, kita akan selalu bekerja dan berkarya, ada atau tanpa posisi struktural.

5. Bekerjasama walaupun berbeda. Perbedaan adalah tabiat kehidupan yang tidak dapat dimatikan oleh jama'ah. Maka, menjadi hal yang salah jika berharap bisa hidup dalam sebuah jama'ah yang bebas dari perbedaan. Yang harus kita tumbuhkan adalah kemampuan jiwa dan kelapangan dada untuk tetap bekerja sama dengan perpecahan dan karena itu kita tetap dapat bersatu walaupun kita berbeda.

Jamaah yang Efektif
Mungkin jauh lebih realistis untuk mencari jama'ah yang efektif ketimbang mencari jama'ah yang ideal. Kita adalah umat yang sakit. Setiap kita mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu sering bertemu dalam sebuah jama'ah, pada dasarnya jama'ah itu juga merupakan jama'ah yang sakit. Itulah faktanya. Namun, tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan.

Jama'ah yang efektif adalah jama'ah yang dapat mengeksekusi atau merealisasikan rencana-rencanaya. Kemampuan eksekusi itu lahir dari integrasi antara berbagi elemen: ada sasaran dan target yang jelas, strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja dengan penuh semangat, dan lingkungan strategi yang kondusif. Jama'ah yang didirikan untuk kepentingan menegakkan syariat Allah di muka bumi akan menjadi efektif apabila ia memililki syarat-syarat berikut ini:

1. Ikatan akidah, bukan kepentingan. Orang-orang yang bergabung dalam jama'ah itu disatukan oleh ikatan akidah, dipersaudarakan oleh iman, dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan duniawi yang biasanya lahir dari syahwat; keserakahan (hubbud dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

2. Jama'ah itu sarana bukan tujuan. Jama'ah itu tetap diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan, sehingga tidak ada alasan untuk memupuk dan memelihara fanatisme sekedar untuk menunjukkan kesetiaan pada jama'ah. Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama'ah-jama'ah itu saling bekerja sama diantara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam pertarungan yang saling mematikan.

3. Sistem, bukan tokoh. Jama'ah itu akan menjadi efektif jika orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalah sesuatu yang terpisah. Dengan cara ini, kita mencegah munculnya diktatorisme, di mana selera sang pemimpin menjelma menjadi sistem.

4. Penumbuhan, bukan pemanfaatan. Sebuah jamaah akan menjadi efektif jika ia memandang dan menempatkan orang -orang yang tergabung ke dalamnya sebagi pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh-kembangkan secara terus menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama'ah itu. Jama'ah itu akan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, atau sapi-sapi dungu yang harus diperah setiap saat.

5. Mengelola perbedaan, bukan mematikannya. Jama'ah yang efektif selalu mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya, dan itu dilakukan melalui mekanisme syura yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan untuk diubah menjadi konsensus.

Anis Matta
Sumber: Buku 'Dari Gerakan ke Negara'

Halaqah yang Dirindukan

Sebelum mengikuti halaqah, saya dibayang-bayangi cerita indah oleh salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu mengikuti halaqah. Maka kemudian ekspektasi saya begitu tinggi, mendapatkan murabbi yang menyenangkan, pengertian, supel, asik, pokoknya murabbi ideal. Sampai suatu ketika Allah memberikan pelajaran kepada saya, bahwa tarbiyah bukanlah tentang siapa murabbi kita, melainkan bagaimana kita bisa berada dalam satu jamaah kebaikan. Kurang lebih 4 tahun saya menjalani halaqah yang saya sebut halaqah tidak ideal, materi yang disampaikan itu-itu saja, murabbi gak asik, temen halaqahnya juga gak asik, kadang hanya ketemu, curhat pulang, halaqah yang datang Cuma 3 orang. Bukan halaqah seperti itu yang saya rindukan, saya merindukan halaqah yang diisi dengan materi-materi yang menambah pengetahuan keislaman saya, halaqah yang benar-benar saya rindukan, jika dalam sepekan tidak menghadirinya bukan justru perasaan biasa-biasa saja saat tidak hadir dalam halaqah.

Dan akhirnya, Allah memang ingin memberikan pelajaran berharga bagi saya. saya diamanahi membina satu halaqah, saya sadar murabbi bukan malaikat atau dewa, murabbi juga manusia yang punya keterbatasan, murabbi bukan seorang public speaking yang bisa dengan berapi-api menyampaikan materi, seorang murabbi adalah manusia yang Allah pilihkan untuk kita. Bahkan murabbi itu ibarat jodoh, Allah yang memilihkannya langsung untuk membersamai menguatkan kita dalam perjalanan dakwah ini. Meski mungkin mereka bukan orang yag pandai memberikan motivasi, tapi percayalah dalam malam-malam panjang, dalam rhobitoh yang mereka pajatkan, mereka mendoakan kita para mutarabbinya untuk tetap istiqomah berada dalam jalan dakwah.

Sempat saya ngambek untuk tidak hadir liqa, karena merasa saya tidak mendapatkan apa-apa. Seorag ustadz berkata “boleh jadi anti ditempatkan di kelompok ini, bukan agar anti banyak menerima melainkan banyak memberi”. Ah….Allah betapa kadang pesanmu begitu indah namun aku yang tak menyadarinya. Dan hari ini, dalam satu lingkaran yang sempurna, meski tidak ada materi dari murabbi, kami saling bertukar cerita, saling berbagi kabar bahagia, saling memberi kekuatan. Kemudian kami menutupnya dengan doa rabithoh yag diselingi isak tangis. Rabbana betapa kemudian saya merindukan pertemuan-pertemua berikutnya, karena tarbiyah bukan tentang siapa murabbi kita, melainkan tentang bagaimana kita bertahan dalam satu lingkaran yang utuh untuk terus bersama-sama saling megingatkan dalam kebaikan. (dakwatuna.com/Umi Sumiyati)

PKS Tegaskan Kembali Komitmen Perjuangan Hak Bagi Penyandang Disabilitas

dakwatuna.com – Jakarta.  Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Jazuli Juwaini menegaskan kembali komitmen PKS dalam memperjuangkan pemenuhan hak para penyandang disabilitas.
Perjuangan hak para penyandang disabilitas itu, menurut Jazuli, akan ditempuh secara bersamaan di dua ranah. Pertama, di daerah-daerah dimana kader PKS menjadi kepala daerah dengan memenangi Pilkada 2017 kemarin.

“Kedua, di level pusat (nasional) dengan cara memperjuangkan hak-hak mereka melalui pembahasan RUU Penyandang Disabilitas bersama dengan Pemerintah,” jelas Jazuli saat menerima audiensi masyarakat dari Kelompok Kerja (Pokja) RUU Disabilitas di Ruang Pimpinan Fraksi PKS DPR RI, Selasa (26/1/2016).
Selain itu, Jazuli juga mengingatkan kepada Pokja RUU Disabilitas agar turut juga membangun komunikasi kepada pihak kementerian (eksekutif) dan fraksi-fraksi lain di DPR RI. Hal itu, agar terbentuk Komisi Nasional yang bertujuan untuk mengawasi terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas tersebut.
“Bahkan kalau perlu bisa dibuat komitmen untuk membangun komite tingkat nasional, propinsi dan kota/kabupaten,”tambah Legislator PKS dari dapil Banten ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ledia Hanifa, dalam kesempatan ini juga menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk segera mengesahkan RUU Disabilitas. Bahkan, menurut Ledia, seharusnya hal itu dapat diselesaikan dalam satu masa sidang saja di tahun 2016 ini.

“Karena itu segala dukungan dari berbagai kalangan untuk kepentingan ini, sangat kami harapkan dan kami terima dengan tangan terbuka,” jelas Ketua Panja RUU Penyandang Disabilitas ini.

Diketahui, Selasa (26/1/2016), Fraksi PKS DPR RI mendapatkan masukan dari sembilan orang pemerhati Penyandang Disabilitas yang tergabung dalam Pokja Disabilitas. Secara bergantian, perwakilan dari Pokja Disabilitas, menyampaikan situasi terkini yang dihadapi para penyandang disabilitas, serta harapan dan saran terhadap RUU Disabilitas yang sedang memasuki pembicaraan tingkat I antara DPR dan Pemerintah.
Pertemuan yang berlangsung akrab ini juga dihadiri oleh Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS lainnya, seperti Hidayat Nur Wahid dan Fikri Faqih, serta Wakil Ketua Bidang Kesra Fraksi PKS Iskan Qolba Lubis. (sbb/dakwatuna)

http://www.dakwatuna.com/2016/01/28/78682/pks-tegaskan-kembali-komitmen-perjuangan-hak-bagi-penyandang-disabilitas/

Tujuh Hal yang Harus Diperhatikan Saat Punya Rumah Baru

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Ada banyak hal yang sudah pasti Anda bayangkan ketika memiliki sebuah rumah baru. Rasanya, ingin secepatnya ditata dan diisi perabotan yang disuka. Namun, hal itu juga harus dipersiapkan dengan matang. Tidak hanya saat akan membeli rumah, tapi saat sudah memiliki rumah, Anda juga harus mempunyai perencanaan yang baik.

Lalu, apa yang harus Anda lakukan ketika kunci rumah baru sudah di tangan? Berikut tujuh hal yang harus diperhatikan dan sebaiknya Anda lakukan:

1. Keamanan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga keamanan dalam rumah. Cek kembali setiap kunci dari akses pintu yang ada di rumah. Akan lebih baik jika Anda langsung mengganti kunci pintu utama rumah karena tidak ada yang pernah tahu siapa yang memiliki aset lama kunci rumah baru Anda.

2. Bersihkan Rumah secara keseluruhan
Rumah baru tidak selamanya bersih. Bila Anda membeli rumah di perumahan baru, pasti masih banyak bekas-bekas pembangunan yang tersisa. Sementara, rumah bekas ada yang ditinggalkan dengan bersih ada yang tidak, tapi Anda tetap harus membersihkannya. Untuk urusan yang satu ini, Anda dapat menyewa layanan pembersih. Namun, jika Anda ingin melakukannya sendiri, siapkan peralatan kebersihan, seperti ember, sapu, pel, vacuum cleaner, dan pewangi untuk setiap jenis permukaan.

3. Cek, Perbaiki dan ganti
Cek kembali keran air yang ada mulai dari dapur hingga rumah. Apabila ada yang tidak jalan, segera ganti yang baru. Untuk di dapur, akan lebih baik ganti keran yang sesuai untuk digunakan di dapur agar lebih mudah digunakan. Selain itu, cek kembali setiap plafon atau eternity, apakah terdapat tanda-tanda bocor. Bila ada, segera ganti.

4. Persiapkan ruangan kamar tidur dan kamar mandi
Bagi ruangan kamar tidur Anda, mana yang akan dijadikan kamar tidur utama dan mana yang akan ditempati oleh anggota keluarga Anda. Selain itu, persiapkan peralatan di kamar mandi sesuai fungsinya (untuk tamu atau anggota keluarga).

5. Ganti warna cat/tambahkan wallpaper
Warna cat dinding yang sesuai dapat menambahkan kenyamanan dan juga nilai keindahan. Apabila Anda punya dana lebih, akan lebih baik dengan menambahkan wallpaper. Untuk warna dan desain wallpaper yang bagus, bisa Anda cari melalui internet atau berkonsultasi dengan ahlinya.

6. Hias setiap Jendela
Jendela menjadi bagian kecil, tapi berdampak positif dari segi kenyamanan dan keindahan. Tambahkan Gorden yang menarik dan sesuai dengan rumah dan karakter Anda.

7.Temui tetangga Anda
Yang terakhir segera temui tetangga Anda. Dari sini, Anda akan mendapatkan banyak informasi tentang lingkungan sekitar rumah.

Untuk urusan melakukan pencarian rumah, terdapat situs yang memiliki fitur pencarian terkini dan cocok untuk mencari rumah impian Anda. Lifull Rumah merupakan situs portal properti di Indonesia yang merupakan bagian dari situs properti nomor 1 di Jepang.

Lifull.id memiliki fitur pencarian properti yang lebih lengkap dan Anda dapat menemukan penawaran properti, seperti rumah dijual, apartemen disewa, perumahan baru, dan lainnya. Fitur-fitur pencarian properti yang bisa Anda lakukan, di antaranya pencarian berdasarkan daerah, pencarian berdasarkan lajur transportasi KRL (kereta rel listrik), bus Transjakarta dll), pencarian dengan menggunakan kriteria populer di Indonesia, hingga pencarian berdasarkan universitas terdekat.

Lifull Rumah juga mempunyai fitur pencarian perumahan baru yang telah bekerja sama dengan banyak developer perumahan baru di Indonesia, total listing perumahan baru yang terdapat di Lifull.Id dan tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 517 dan akan terus bertambah setiap harinya.

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/16/01/28/o1m3b3219-tujuh-hal-yang-harus-diperhatikan-saat-punya-rumah-baru

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang