.

.
Stumbleupon Favorites More

Murabbi, Guru Sekaligus Dai

Sesungguhnya di dunia ini ada taman-taman surga. Apakah yang dimaksud taman surga dunia itu? Rasulullah bersabda “Apabila kamu melewati taman-taman surga berlabuhlah di sana. Kemudian para sahabat bertanya ‘apakah taman-taman surga itu ya Rasulullah?’ Beliau menjawab “majelis-majelis ilmu”.

Halaqah tarbawi ya itulah gambaran taman surga dunia. Untukmu wahai para murabbi di sanalah terdapat surga peran bagimu dalam halaqah tarbawi. Lalu surga peran seperti apakah dimaksud?

Ya, di dalam halaqah tarbawi kau mendapat kesempatan untuk menambah medan amal melalui peranmu. Sebagai murabbi surgakan peranmu sebagai guru dan dai dalam halaqah tarbawi.

Murabbi, dialah seorang guru yang mendidik para mutarabbi untuk lebih mengenal islam. Murabbi, dialah seorang guru yang memberi wawasan-wawasan yang baru mengenai kehidupan. Murabbi, dialah seorang guru yang mengajarkan suatu hal melalui hikmah (bil hikmah). Murabbi, dialah seorang guru yang memberikan keteladanan yang baik (qudwah hasanah).

Wahai murabbi, kau juga seorang dai yang menyeru manusia kepada Allah dan kebaikan “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran…”(QS. Ali Imran: 104).

Begitulah peran murabbi, menebarkan kebermanfaatan untuk orang lain “khairunnas anfa’uhum linnas”, mengajarkan kebaikan kepada sesama makhluk sehingga kau akan terus hidup dan mulia.

Seperti yang dikatakan Sayyid Quthb “Innal ladzii ya’iisyu li nafsihi, ya’iisyu shaghiiran wa yamuutu shaghiiran. Wal ladzii ya’iisyu li ummatihi ya’iisyu ‘azhiiman kabiiran wa laa yamutu abadan.” Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri ia akan hidup kecil dan mati sebagai orang kecil. Sedangkan orang yang hidup untuk umatnya ia akan hidup mulia dan besar, serta tidak akan pernah mati.

Wahai murabbi kau adalah guru sekaligus dai maka istiqomahlah di dalam peranmu karena masih banyak ratusan hati, jutaan jiwa yang merindukan tegaknya kembali nilai-nilai Islam di bumi ini. “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah..”(QS. Fushilat : 33).

Wahai murabbi kelak kau akan mendapat buah-buah dakwah yang kau lakukan. Percayalah. “..Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Pradeka Brilyan Purwandoko
Dakwatuna

Prabowo: DPR Tandingan Itu Bukti Ketidakdewasaan Politik

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menegaskan  pembentukan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat tandingan dari kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) adalah sikap ke kanak-kanakan. Sikap itu dinilai sangat merugikan rakyat, karena menghambat kerja-kerja parlemen dalam pengawal jalannya pemerintahan yang baru terbentuk.

"Saya kira pimpinan DPR tandingan itu bentuk ketidakdewasaan. Pikiran-pikiran seperti ini sangat merugikan bangsa," kata Prabowo usai menghadiri Muktamar VIII PPP di salah satu hotel di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis 30 Oktober 2014.

Prabowo berpendapat, kubu KIH yang dipelopori partai PDI Perjuangan tidak dewasa dalam berpolitik. Padahal Prabowo selaku calon Presiden yang dinyatakan kalah dalam Pilpres lalu tetap mengakui kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden yang sah, meski merasa dicurangi.

"Tetapi kami ingin suasana yang baik bagi bangsa dan negara ini, sebagaimana diketahui saya dan para tokoh KMP justru memberi selamat kepada pemerintah baru," katanya.

Mantan Danjen Kopassus itu menuturkan, kubunya mendukung dan mendorong pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Jokowi-JK untuk bekerja keras membangun negara yang lebih maju ke depan. Maka, ia mengaharapkan demokrasi harus tetap dijaga dengan keseimbangan antara pemerintah pusat dengan parlemen.

"Karena itu kami menginginkan hubungan baik antara yang diberi mandat eksekutif dan legislatif.  Legislatif yang kuat menguntungkan rakyat. Kami berpikir positif, kami tidak mau menang-kalah," katanya.

Merusak sistem

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengaku tak habis pikir dengan langkah yang ditempuh oleh Koalisi Indonesia Hebat yang membentuk DPR tandingan itu. Justru di pikirannya itu merupakan sesuatu yang lucu dan tidak baik untuk dilakukan.

Ditemui media di sela Muktamar VIII PPP, pria yang akrab disapa ARB itu menyebut langkah KIH malah membahayakan demokrasi di Indonesia. "Ada DPR tandingan, ini lucu kan? Malah bisa merusak sistem demokrasi Indonesia," kata ARB.

Dia menyebut, masa hanya karena KIH kalah di parlemen, lalu mau buat DPR tandingan. "Masa, kalau Pak Prabowo kalah saat pemilu presiden kemarin, lalu Beliau membuat satu pemerintahan tandingan? Kan itu namanya engga-engga saja," imbuh ARB.

KIH membentuk DPR tandingan karena tidak mempercayai parlemen yang didominasi oleh Koalisi Merah Putih.  Mereka juga tidak mengakui pimpinan komisi yang ada di DPR, karena dipilih melalui proses yang tidak demokratis.

Semula KIH mengajukan mosi tidak mempercaya. Lalu, menunjuk pimpinan DPR baru versi mereka, karena tidak lagi mempercayai Setya Novanto.

Nama Pramono Anung kemudian disebut KIH untuk menjadi ketua DPR tandingan. Sejauh ini, KIH tidak memiliki wakil sebagai pimpinan komisi atau Alat Kelengkapan Dewan yang lain. (viva)

Tarbiyah Rasulullah Saw atas Generasi Pertama Islam

Rasulullah Saw membina generasi pertama Islam ini di atas prinsip-prinsip yang kuat. Generasi pertama Islam yang disebut oleh Sayyid Quthb dengan “Generasi yang Unik” ini dibina langsung oleh Rasulullah Saw dengan bimbingan terbaik yang tak ada tandingan atasnya.

Dr Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah menjelaskan lima belas poin yang merupakan pokok-pokok tarbiyah Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabat dan generasi penerusnya itu.

1. Membatasi pembinaan hanya dengan Manhaj Rabbani

2. Memurnikah dakwah dari segala kepentingan duniawi dan manfaat-manfaat yang bersifat sementara

3. Dimulai dengan membangun aqidah umat sebelum menegakkan syariat (hukum)

4. Sejak pertama kali, pembinaannya adalah kelompok pergerakan (harakah)

5. Jelas benderanya dan terang tujuannya serta tidak tercampur aduk dengan pemikiran lain

6. Membina “Qaidah Shalabah” atau kelompok inti yang kuat menopang “bangunan”

7. Mendayagunakan semua potensi

8. Mengukur kekuatan anggota dan pemimpin dengan parameter ketaqwaan

9. Pembinaan melalui celah fenomena dan amal nyata

10. Berjihad

11. Menanamkan dalam hati akan datangnya pertolongan dari Allah Swt

12. Menjadi Uswah Hasanah dan pemimpin yang beramal nyata

13. Bersikap lembut dan penyayang, bukan kasar dan menyakitkan

14. Bervisi jauh ke depan, khususnya dalam menyikapi perubahan antar fase perjuangan

15. Para sahabat (kader dan pimpinan dakwah) menerima perintah untuk dilaksanakan

Kelima belas pokok-pokok Tarbiyah generasi awal Islam ini memiliki bahasan yang panjang dan terarah. Sebelum itu, penting juga dipahami tentang tujuan dari mengetahui konsep (pokok-pokok) Tarbiyah ini. Hal ini amat penting bagi pejuang Islam yang berkeinginan mewujudkan masyarakat Islam yang nyata.

Pertama, mengetahui konsep Islam dalam menegakkan daulah (negara).

Manhaj pemikiran dan pergerakan sama pentingnya dan tidak terpisah dengan manhaj kehidupan. Sebagaimana agama ini berasal dari Allah Swt dan harus ditegakkan dengan cara-Nya pula.

Kedua, mengetahui jalan Rabbani dalam membela agama Allah Swt, mengokohkan Syariat-Nya dan istiqamah di atas jalan-Nya.

Jalan dakwah inilah yang ditempuh oleh Rasulullah Saw pertama kalinya. Dan karenanya, Islam menang. Ketahuilah bahwa Islam tidak akan bangkit kecuali dengan cara serupa.

Sayyid Quthb menjelaskan hal ini dengan mengatakan, “Pemeluk agama ini harus benar-benar mengetahui bahwa agama ini dzatnya adalah Rabbani. Maka konsep operasionalnya pun Rabbani dan berjalan paralel dengan tabiatnya.

Ketiga, mengetahu betapa mulianya panglima dakwah, Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw telah menjadi murabbi dari lahirnya pemimpin-pemimpin yang tiada duanya. Beliau melahirkan panglima perang, pemimpin, politikus, administrator, pembimbing, pengajar, hakim dan penguasa. [tarbiyah.net]

Keberkahan ‘Dalam Naungan al-Qur’an’

Sayyid Quthb begitu menggema-mengangkasa dalam langit kecemerlangan Islam dan kaum muslimin. Namanya berada dalam deret inspirator yang tetap hidup meski jasadnya telah berkalang tanah. Setiap disebut namanya, ada buncah semangat yang tak terbendung. Saat dibincang karyanya, ada decak kagum yang tak usai tuk dibincang. Meski, sosok kurus fisik ini tetap diberi catatan oleh mereka yang benci, tak mengerti atau sengaja acuh.

Meski sempat mengalami ujian pikir dan batin hingga menimba wawasan di pusat negeri musuh Islam, Amerika, hidayah telah menyelamatkan sosok yang piawai menularkan gagasan dan semangat lewat tulisan ini. Amat banyak anggitannya dalam bentuk artikel surat kabar, buku kecil, hingga kitab rujukan yang hingga kini senantiasa harum dalam penciuman sejarah. Bahkan, puncaknya, kesyahidan –insya Allah- yang diperolehnya, bersebab ditulisnya Ma’alim fith Thariq yang diterjemah menjadi Petunjuk Sepanjang Jalan.

Selain judul itu, ada Fi Zhilalil Qur’an yang memiliki banyak kelebihan dari berbagai sisi. Tafsir al-Qur’anul Karim yang dibaca di berbagai penjuru belahan bumi ini memiliki kisah dan takdirnya sendiri. Sebuah perjalanan pemikiran, akumulasi perenungan, pemahaman nash dan paduan sastra indah nan terasa menusuk ke dalam relung jiwa tiap pembacanya.

Zhilal sendiri dirampungkan di dalam jeruji besi. Apakah kita bisa menjelaskan bagaimana kitab yang terdiri dari ribuan halaman ini bisa diselesaikan dalam bui? Sementara di sana, fisiknya disiksa tiada henti. Belum lagi menjelaskan dari mana kertasnya, alat tulisnya, tempatnya, pencahayaannya, dan sebagainya. Dalam kegigihan ini, ada satu tafsir yang paling pasti: Pertolongan Allah Swt. Dia selalu mempunyai cara sendiri untuk memenangkan dakwahnya.

Kemudian dari Zhilal itulah banyak semangat dan cita-cita yang ditrnsferkan oleh muharrik dakwah asal Negeri Piramida ini. Banyak generasi yang tersengat semangat tiap kali menafakkuri kitab yang monumental ini.

Dalam catatan penulis, Zhilal ini diterbitkan oleh dua penerbit besar di Negeri yang kita cintai ini. Ada beberapa versi. Mulai yang jilid kecil hingga besar. Dari salah satu penerbit itu, kitab ini dicetak dalam 12 jilid besar dengan ukuran lebar 20 sentimeter dan panjang (tinggi) 26 sentimeter. Masing-masing jilidnya ada sekitar 400 halaman. Maka, jumlah keseluruhannya ada sekitar 4800 halaman.

Jauh hari sebelum buku ini sampai di negeri kita, mari sejenak saksamai penuturan salah satu penerus beliau, Dr Abdullah Azzam. Beliau adalah sosok doktor yang juga mewakafkan diri dan semua yang dimilikinya untuk dakwah.

Dalam bukunya Tarbiyah Jihadiyah, sosok yang juga menjadi salah satu imam jihad Afghanistan menuturkan terkait Zhilal ini. Di tahun saat penulisnya wafat lantaran digantung rezim penguasa, kitab itu tercetak tujuh kali. Padahal, saat beliau hidup, kitab ini hanya sekali cetak.

Tutur sosok yang juga dibunuh oleh musuh Islam melalui bom mobil ini melanjutkan, ketika banyak percetakan-percetakan Kristen di Beirut diambang kebangkrutan, diantara mereka saling berpesan mengingatkan agar mencetak kitab Zhilal ini.

Sehingga, beredarlah perbincangan yang masyhur kala itu diantara pemilik-pemilik percetakan, “Cetaklah azh-Zhilal,” maka, “percetakanmu akan lancar kembali.”

Barangkali itulah salah satu makna keberkahan kitab “Dalam Naungan al-Qur’an” itu. Ia tak hanya harum di kalangan kaum muslimin, tapi menjadi sumber penghasilan pula bagi pemeluk agama tetangga. Moga penulisnya senantiasa mendapat ampunan dan kasih sayang Allah Swt di alam kuburnya.

Ah, maaf, boleh kutanya? Kau sudah pernah baca Zhilal? Atau jangan-jangan, kau tak memilikinya? [tarbiyah.net]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang