.

.
Stumbleupon Favorites More

Pemilu 2014 Tenggelamkan Kasus Satinah

Jakarta - Pemilu 2014 benar-benar menyita perhatian masyarakat. Hitung cepat, koalisi, dan segala pernak-perniknya seakan-akan menenggelamkan isu lainnya.

Sebutlah kasus Satinah yang hingga saat ini belum bisa dikatakan aman dan selesai walaupun pemerintah sudah sepakat untuk membayar diyat.

Perhitungan suara belum selesai, tetapi Wirianingsih, anggota komisi IX DPR RI yang juga caleg DPR RI tetap konsisten mengadvokasi TKI seperti Satinah.

“Saya sangat menyayangkan kasus yang melibatkan TKI kembali berulang, andai pemerintah konsisten untuk mempertahankan moratorium pengiriman TKI ke Saudi Arabia sambil menunggu revisi Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga(PPRT) dan  Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri (PPTKILN), saya rasa hal ini semacam ini tidak akan terjadi. Kasus Satinah ini menunjukkan bahwa pemerintah belum secara serius melindungi  TKI kita di luar negeri, banyak Satinah-Satinah lain yang juga menunggu untuk diselamatkan,” papar Wirianingsih di sela-sela kerjanya di gedung DPR RI, Jakarta (15/4) dalam rilis yang diterima redaksi dakwatuna.

Wirianingsih juga menyesalkan adanya penanda tanganan nota kesepahaman  berupa Perjanjian Penempatan dan Perlindungan TKI  antara pemerintah Saudi dengan  Menakertrans  tanpa sepengetahuan DPR , padahal jelas-jelas moratorium masih diberlakukan. Lebih lanjut, Wirianingsih meminta pemerintah fokus menyelesaikan permasalahan TKI secara tuntas dan komprehensif dengan melibatkan semua sektor terkait.

Diawali dengan pembuatan prosedur yang ketat dan jelas tetang proses seleksi TKI, sosialisasi yang masif tetang prosedur maupun regulasi tentang TKI kepada Perusahaan Jasa Tenaga Kerja indonesia (PJTKI). Pemerintah juga harus berani menindak secara tegas dengan mencabut izin PJTKI yang bermasalah. Selain itu Wirianingsih juga mendorong optimalisasi peran Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

“Saya yakin jika badan ini diberikan kewenangan yang jelas untuk melindungi TKI kita di luar negeri, maka masalah-masalah ini bisa diantisipasi dengan baik,” pungkas Wirianingsih. (dakwatuna)

Menanti Koalisi Partai-partai Islam

Sampai tadi pagi di bus jemputan kantor, saya masih melihat hasil quick countsejumlah lembaga survei terhadap raihan suara partai-partai peserta Pemilu. Hasilnya memang mengejutkan. Saya jadi teringat ucapan politisi PAN, Drajat Wibowo, ketika diwawancarai presenter TVOne, kemarin sore. Ekonom yang sempat digadang-gadang menggantikan Gita Wirjawan sebagai Menteri Perdagangan itu mengatakan bahwa hasil quick count ini meluruskan dan membantah prediksi lembaga-lembaga survei yang menghambakan dirinya kepada uang. Memang jika kita melihat hasil survei yang dirilis oleh lembaga-lembaga survei mendekati Pemilu, nampak survei tersebut sekadar dagelan dibungkus metode ilmiah. Lembaga survei kemudian berlindung dibalik data “sejumlah pemilih yang belum menentukan sikap” dan menjadikan kalimat tersebut sebagai justifikasi hasil quick countyang rupanya berbeda dengan survei elektabilitas partai yang sudah mepet menjelang masa tenang itu.


Fakta Menarik di Balik Pileg 2014

Golkar memang sulit dibendung. Akar politik Golkar sudah menjamah ke pelosok-pelosok desa. Pun  fanatisme masyarakat terhadap Golkar –dan pada beberapa hal terhadap Soeharto— Nampak sulit direduksi dan disalip partai lain. Sehingga bukan kejutan melihat Golkar bertengger di posisi dua. Banyak pihak sudah memprediksi itu. Sementara Hanura harus mengubur mimpinya memajukan Win-HT sebagai capres cawapres sekalipun sudah kampanye besar-besaran di media-media milik pengusaha Harry Tanoesoedibyo. Berbeda dengan Gerindra yang melejit ke posisi ketiga sebagai buah dari “kemenakjuban” Prabowo Effect.

Yang tak kalah mengejutkan adalah suara PDIP. Sebelum pemilu, sejumlah survei sempat menyebut elektabilitas partai moncong putih itu menembus 30 bahkan 35%. Jokowi effect yang dibesarkan oleh media rupanya tak terlalu signifikan. Artinya, seluruh partai harus mencari teman koalisi untuk memenuhi ambang presidential treshold 25% atau parliamentary threshold20% sebagai syarat calonkan presiden.  Disinilah posisi partai-partai Islam yang memenuhi deretan partai papan tengah menemukan signifikansinya.

Peta Partai Islam

Raihan suara partai papan tengah yang relatif merata menjadi penentu peta koalisi pada pilpres mendatang. Versi quick count,Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meraih suara mengagumkan dengan perolehan suara di atas 9%. Selain berhasil mengonsolidasikan basis suara tradisional Nahdhatul Ulama, strategi Muhaimin Iskandar, ketua Umum PKB mem-publish calon presiden dari kalangan public figureseperti Rhoma Irama, Jusuf Kalla, dan Mahfudh MD sebagai vote getter cukup jitu untuk mendongkrak suara PKB yang pada Pemilu lalu hanya memperoleh suara 4.9%. Ketiga tokoh itu memiliki basis massanya sendiri. Sebagian pengagum musisi Ahmad Dhani juga nampaknya terpengaruh untuk memberikan suaranya ke PKB setelah melihat pemillik Republic Cinta Manajemen itu beriklan untuk PKB. Hanya saja PKB harus berhati-hati, karena suara besar tak mesti berbanding lurus dengan perolehan kursi di parlemen. Suara PKB besar di Pulau Jawa yang Bilangan Pembagi Pemilih-nya lebih tinggi. Bisajadi, sekalipun bersuara besar, tapi raihan kursi PKB di parlemen lebih sedikit daripada PAN atau bahkan PKS. Hal ini tentu akan berfek pula padabargaining position dalam peta koalisi. Harga kursi di pulau jawa memang “lebih mahal” daripada kursi dari Daerah Pemilihan (Dapil) lain.

Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga meraih kenaikan suara sekalipun tidak signifikan.Over all suara partai-partai Islam cukup baik pada Pemilu kali ini.  Yang cukup mencuri perhatian adalah suara Partai Keadilan Sejahtera. Versi quick count, PKS bertengger pada posisi 6.5% menurut data Lingkaran Survei Indonesia, atau 7% versi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), jikamargin of error dari survei dengan metodemultistage random sampling itu sebesar 1%, maka suara PKS akan berkisar antara 5,5 hingga 8 %. Sebuah pertahanan yang mengagumkan disaat pemberitaan mengenai PKS begitu negatif di media massa. (lihat rilis survei Pol-Tracking Institute berjudul “Prediksi Elektabilitas Partai pada Pemilu 2014: Mengukur Pengaruh Pencapresan Jokowi dan TonePemberitaan 15 Media Mainstream pada Masa Kampanye”.
Raihan suara PKS ini mematahkan pandangan (atau keinginan?) sejumlah pengamat yang menyebut riwayat PKS akan berakhir di bawah 3%, sekaligus membuktikan  bahwa mesin partai dakwah tersebut bekerja dengan sangat efektif. Di tengah terpaan badai sedemikian rupa, bisa bertengger pada posisi 6-7%  untuk PKS saya kira termasuk prestasi yang luar biasa. Artinya, suara PKS hanya turun sedikit dari Pemilu 2009 yang meraih suara sebesar 7.8%. PKS sebetulnya “merugi” (dalam tanda kutip) karena Mahkamah Konstitusi meloloskan Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai partai politik peserta pemilu 2014 pasca pakar hukum Yusril Ihza Mahendra mengajukan gugatan. Jika saja PBB tidak ikut Pemilu, maka basis massa PBB sebesar 1.39% kemungkinan besar akan melimpah ke PKS, mengingat irisan konstituen antara PBB dan PKS yang relatif dekat sebagai pewaris Masyumi. Massa PBB bagi PKS cukup berharga untuk menambah raihan suara mencapai 8% melampaui PAN.

Deretan partai-partai Islam, atau berbasis massa Islam sebagai papan tengah di atas, merupakan penentu bagi peta perpolitikan Indonesia, terutama menjelang koalisi menuju pilpres. Kekuatan partai Islam terletak pada bargaining  position-nya untuk menjadi pilihan bagi, setidaknya, tiga partai besar sebagai pasangan calon wakil presiden. Secara kasar kita tinggal mengira pasangan misalnya Jokowi-Hatta, Prabowo-HNW, ARB-Mahfudh, dan sejumlah skenario lain dimana tiga partai besar akan meminang partai-partai papan tengah untuk raup dukungan.

Partai Islam Berkoalisilah!

Tetapi peta politik akan menjadi sangat menarik, jika pada Pemilihan Presiden nanti partai-partai Islam ‘jual mahal’ dengan tidak berkoalisi dengan tiga partai pemenang. Partai-partai Islam bisa berkoalisi membentuk poros tengah jilid baru sebagai mana dulu dilakukan secara ciamik oleh Amien Rais, yang berhasil mengantarkan ketua PP Muhammadiyah itu sebagai ketua MPR, dan ketua PBNU, Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Partai-partai Islam dapat bergabung dalam sebuah ‘politik aliran’ yang  berbasis massa Islam. Politik aliran tidak dapat dibungkam sekalipun banyak pihak mengatakan doktrin Clifford Geertz era 50-an itu sudah tenggelam.

Fakta munculnya Kajian Politik Islam yang cukup ramai di Masjid al-Azhar Kebayoran Baru, atau Deklarasi Capres Ummat Islam di Masjid Islamic Center, Sentul beberapa waktu lalu, atau menyebarnya pesanbroadcast anti agama tertentu dan kampanye-kampanye yang menggunakan semangat dan simbol agama  adalah fakta bahwa politik aliran di Indonesia tak akan pernah mati. Tentu bukan bermaksud untuk menghidupkan kembali nuansa lama itu, tetapi untuk menunjukkan bahwa memang politik aliran itu masih eksis dan akan tetap ada.

Tentu akan menjadi sebuah tantangan dan dinamika politik yang sangat menarik, jika pimpinan partai-partai Islam rela meninggalkan egoismenya, untuk kemudian bersatu. Akumulasi dari raihan suara partai-partai Islam mencapai 29-32%, sebuah suara  yang lebih dari cukup untuk mengajukan capres alternatif, sekaligus menyulitkan hasrat capres dari tiga partai pemenang Pemilu lainnya yang galau mencari cawapres.

Masalah konsolidasi bersama di parlemen yang membutuhkan setidaknya 50% tambah satu suara tentu bisa dinegosiasikan menyusul.  Partai Islam, bersatulah!

Sigit Kamseno
(Alumni Pemikiran Politik Islam, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
fimadani

Uhud, Thursina, Mozaik Harapan di Ambang Kehancuran

Saat-saat hanya bisa berharap, pasrah tanpa ada pilihan lain. Berbekal keyakinan semata, janji-Nya telah pasti. Agar ketika kelak kesombongan hendak singgah, segera beranjak, menuju pilihan lain, menempuh jalan syukur dan tawadhu’.
Meredup tapi tak padam, memudar tapi tak lenyap, terjatuh tapi menggeliat lagi. Sejenak terhenti, tetapi akan bangun, meneruskan langkah, mengalir sampai ke akhir muaranya. Tetap hidup, takkan pernah ada yang membuatnya berhenti sama sekali.
Lelah dalam penantian panjang. Mengkhawatirkan habisnya kesabaran yang dimiliki, sementara perjalanan mungkin masih jauh. Tetapi kemenangan itu telah menjadi ketetapan-Nya, agar tekad dan kesabaran tetap utuh.
***
Berbagai karunia Allah kepada Bani Israil berbalas kedurhakaan mereka kepada Nabi Musa. Di ambang azab, tatkala gempa mulai terasa, sebuah bentuk belas kasih Nabi Musa kepada kaumnya, terucap permohonan terakhir untuk sebuah ampunan:
“Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al A’raaf: 155)
Pertolongan dan ampunan-Nya takkan habis, sekalipun di antara hamba-hamba yang menzhalimi dirinya, asal tidak berputus asa.
***
Kami tak sebaik Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, tapi juga tak seburuk para pembangkang dari kaumnya. Kami meniti jalan dakwah ini, sekalipun berada di barisan terbelakangnya. Kami menjadi penuntun umat ini, sementara langkah kami sendiri terkadang masih tertatih. Tanggung jawab yang besar terpikul di pundak kami, sementara kami sebenarnya masih membutuhkan penopang saat-saat goyah.
Dengan menyandang predikat sebagai pengusung panji dakwah, tidak lantas secara otomatis membuat kami terbebas dari khilaf, alpa dan kelemahan. Mengenakan atribut dakwah, tidak serta merta menjadikan kami sepenuhnya suci.
Kami tetap manusia biasa, dengan kekuatan dan kelemahan, tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun yang membuat berbeda, kami memiliki cita dan tekad tentang dakwah ini. Berada di jalan dakwah ini adalah suatu nikmat, sekaligus tanggung jawab yang besar. Kami khawatir, noda yang ada pada kami membuat panji dakwah ini terjatuh, membuat cita ini retak. Terkadang dakwah itu terpuruk oleh pengusungnya sendiri.
Dengan kekurangan dan kelebihan ini, masing-masing di antara kami saling  membutuhkan dan melengkapi. Namun terkadang ada di antara kami yang menjadi beban, menyulitkan teman seperjuangan.
Hanya saja, dari kebaikan kami yang tak seberapa ini, berharap tercurah ampunan dan rahmat-Nya yang tiada tara, menanti sebaik-baik pertolongan.
***
Tak ada jaminan kemenangan, tak selalu bertemu dengan kemudahan. Aral melintang menjadi ujian dan seleksi, hingga terlihat siapa yang terbaik amalnya, di antara bergulirnya kejayaan dan kekalahan. Hanya orang-orang terpilih dalam ujian yang mendapatkan prestasi terbaik.
Kemenangan lembah Badar terasa lebih manis, tetapi kejatuhan yang terpahat di bukit Uhud lebih menjadi ibrah, tentang kewaspadaan, kesalahan itu mungkin terulang kembali, dakwah ini terpuruk karenanya, berada pada posisi sulit.
“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai(harta rampasan). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan:152)
Kesalahan berbuah luka dan kesedihan. Tergelincir di ambang kekalahan. Tetapi dakwah ini tetap milik-Nya. Sejatuh apa pun yakinlah bahwa Dia akan senantiasa menjaganya.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.” (QS. Ali Imraan: 153-154)
Di ambang kehancuran, seburuk apapun, tak ada tempat untuk putus asa. Ketika jalan telah buntu, bukan tempat tuk menyerah, masih tetap akan ada titian doa, menjadi jalan lain. Harapan itu akan tetap ada, tetap akan berlanjut, akan bangkit kembali, takkan putus pertolongan-Nya.
“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imraan: 139-141)
Berharap agar Dia memaklumi posisi sulit kami, memaafkan perbuatan kami yang melampaui batas, menolong apa yang berada di luar kemampuan kami, memberi rahmat atas niat tulus kami, jalan keluar yang terbaik dari kesulitan kami, dengan karunia-Nya semata.
Juga agar kelemahan menjadi pelajaran, sehingga kita senantiasa ingat, tak lupa diri menghadapi kemenangan, tak takabur dengan keberhasilan, tak lengah sebelum sampai tujuan.
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 165-166)
Tantangan itu berbuah kemuliaan, membuat kesabaran itu sangat bernilai. Ketidakberdayaan berbuah kepasrahan, meluluhkan keangkuhan. Tak berhenti di gunung Thursina, tak padam di bukit Uhud. (
(dakwatuna)

Muhamad Fauzi

"Mencoba Berbuat Semampu Kami"

by: Irsyad Syafar Lc

pkssumut.or.id, إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب (هود: 88)

“Aku hanya bermaksud melakukan perbaikan semampuku. Dan petunjukku hanya dari Allah. kepadaNya aku bertawakkal dan kepadaNya aku kembali”. (QS Huud: 88)

Ayat inilah yang menjadi semangat dan ruh perjuangan seluruh kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam bekerja dan berbuat untuk negeri ini. Dengan segala kemampuan dan daya yang dimiliki, PKS dengan segenap jajaran pengurus serta kadernya mencoba menghadirkan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Semenjak masih bernama Partai Keadilan, bahkan sebelum ada payung politiknya, upaya-upaya ini telah mulai di bangun.

Tulisan singkat ini bukan bermaksud untuk membangga-banggakan diri apalagi menepuk dada telah banyak berbuat. Ini sebagai bagian dari “tahadduts binni’mah” menyebutkan sebagian dari nikmat Allah. Semoga nikmat itu Allah tambahkan di hari-hari yang akan datang. Disamping itu, sebagian informasi ini luput dari pemberitaan media.

Semenjak belum berpartai, kader-kader PKS telah memulai kerja-kerja perbaikan untuk menghadirkan manusia Indonesia yang lebih baik. Dimulai dengan membina generasi muda agar menjadi generasi yang baik, dekat dengan Allah, sunnah RasulNya dan biasa berinteraksi dengan Al Quran. Jauh dari kenakalan, perbuatan dosa dan maksiat, serta menghindari hal-hal yang sia-sia dan hura-hura. Kemudian dilanjutkan dengan membangun keluarga dan rumah tangga yang baik, islami dan penuh cinta. Sering disebut dikalangan kader dengan keluarga SAMARA, sakinah mawaddah dan rahmah (Keluarga yang tentram, penuh cinta dan kasih sayang).

Kemudian satu-persatu kader PKS mendirikan lembaga pendidikan yang diawali dengan Sekolah Dasar Islam Terpadu. Di SDIT ini dididiklah anak-anak muslim secara lebih baik dan berkualitas. Bermula dengan gedung yang sederhana, sarana prasarana yang terbatas, meminjam rumah dan mushalla masyarakat. Dengan izin Allah, SDIT telah mampu menghasilkan anak-anak yang berprestasi dan cerdas secara akademik, mulia secara karakter dan akhlak serta unggul dalam kreatifitas. Pelan tapi pasti SDIT bermunculan diberbagai kota dan provinsi. Baik tingkat SD, SLTP maupun SLTA. Saat ini telah ribuan Sekolah Islam Terpadu di seluruh Indonesia, didirikan, dikelola dan dikembangkan oleh kader-kader PKS. Sekolah jenis ini telah menjadi menjadi sekolah unggulan dan pilihan utama bagi orang tua dalam menyekolahkan anaknya.

Kader-kader PKS juga mendirikan dan mengelola pondok-pondok pesantren dengan konsep yang lebih modern dan komprehensif. Memiliki perhatian keilmuan Islam yang lebih mendalam yang tetap menjaga keorisinilan kultur sebuah pondok, sekaligus memiliki keunggulan dalam bidang ilmu umum dan eksak. Alhamdulillah pondok-pondok ini mampu mensejajarkan diri dengan pondok pesantren lain ditanah air yang sudah besar dan sangat terkenal. Saat ini sudah ratusan ponpes di seluruh Indonesia yang dikelola oleh kader-kader PKS. Bahkan alumni ponpes ini telah tersebar di berbagai perguruan tinggi favorit di Indonesia seperti UI, ITB, ITS, UGM, Unpad, IPB, Unand, USU dan lain-lain. Bahkan juga menyebar di berbagai perguruan tinggi di beberapa Negara di dunia seperti: Malaysia, singapura, Australia, Jepang, Jerman, Inggris, Amerika, Mesir, Sudan, Maroko, Libia, Yordan, Yaman, Kuwait, Qatar dan Saudi Arabia. Ponpes ini tidak saja melahirkan remaja yang unggul di bidang agama, IPA, IPS atau bahasa, namun juga melahirkan para penghafal Al Quran. Ada ratusan bahkan ribuan penghafal Al Quran dikalangan kader dan anak-anak kader PKS.

Disamping itu, saat ini ada 500an kader PKS yang doktor di berbagai disiplin ilmu, dan ada 300an yang Profesor. Juga ada ribuan yang tengah menyelesaikan program S3 dan S2 di berbagai Negara di dunia termasuk di Indonesia sendiri. Ini bagian dari upaya serius dalam menghadirkan ishlah di tanah air Indonesia.

Sukses di dunia keluarga dan pendidikan, kader-kader PKS juga mencoba berbuat dan menghadirkan perbaikan di pemerintahan dan masyarakat. Mulai dari kepala daerah sampai ke tingkat Menteri. Walikota, gubernur dan menteri dari kader PKS telah dan terus memberikan yang terbaik bagi rakyat Indonesia. Gubernur Jawa barat Ahmad Heriawan telah meraih lebih dari 130 penghargaan resmi dari pemerintah pusat. Bila Gubernur sbelumnya hanya mampu membangun 600 ruang belajar baru selama masa jabatannya, maka Aher telah berhasil membangun 18.000 ruang belajar baru hanya dalam 3 tahun jabatan. Beliau membangun puskesmas-puskesmas di setiap kota dan kabupaten yang mampu melayani rawat inap dan persalinan. Sehingga masyarakat yang mesti dirawat inap atau bersalin tidak perlu lagi menempuh jarak ratusan kilometer untuk mendapatkan layanan standar.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno telah juga berupaya untuk berbuat demi kebaikan masyarakat Sumbar. Menerima jabatan gubernur setelah Sumbar luluh-lantak oleh gempa 30 september 2009, tingkat kemiskinan mencapai 12%, pertumbuhan ekonomi hanya 5% (berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional), jalan-jalan banyak yang rusak berat dan parah. Dengan sabar dan tangan dingin beliau hadapi. Dalam 3 bulan saja menjabat, Beliau bawa dana 2,3 triliyun ke sumbar untuk perbaikan kerusakan gempa. Tingkat kemiskinan terus ditekan dan sekarang turun sampai ke 7%-8% saja. Pertumbuhan ekonomi juga terus meningkat dan selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, mencapai 7% lebih. Jalan-jalan dan jembatan di Sumbar di perbaiki. Sehingga Sumbar meraih penghargaan terbaik nasional di bidang jalan dan prasarananya.

Karena perhatian dan kecintaannya kepada rakyatnya, dalam setahun, beliau blusukan lebih dari 90 kali ke seluruh pelosok sumbar. Kadang harus naik sampan, sepeda motor, atau berjalan kaki, bahkan beliau tidak malu-malu naik motorcross untuk mencapai daerah-daerah sulit. Dalam semua perjalanan itu, kalau hari senin atau kamis, beliau tetap berpuasa sunat. Pernah saya tegur: “Pak Gubernur, kalau sedang musafir, sebaiknya tidak puasa sunat. Kalau puasa wajib gak apa-apa”. Beliau menjawab: “iya ustadz, saya tahu itu. Tapi saya ini musafir terus sepanjang tahun. Lalu kapan saya akan puasa sunat?’. Mendengar jawabannya saya tak berdaya melarangnya. Hanya tiga tahun menjabat sebagai gubernur, beliau telah meraih 104 penghargaan resmi dari pemerintah Pusat.

Di departemen pertanian, tahun ini bisa mewujudkan 25% surplus beras nasional. 24% diantaranya berasal dari 4 provinsi: Sumut, Sumbar, Jabar dan Maluku utara. Ke 4 provinsi itu semua Gubernurnya adalah kader PKS. Mengkominfo di masa kepemimpinan Tifatul Sembiring juga berhasil menutup 95% situs porno. Sehingga pornografi mengalami penurunan yang sangat besar di Indonesia. Walaupun akibatnya Tifatul menghadapi “serangan-serangan” dari dalam dan luar negeri dari pihak yang selama ini mencari makan di dunia pornografi, dengan harga kehancuran moral bangsa.

Ini hanya sebagian yang bisa dituliskan dari semangat dan ruh PKS yang hanya bermaksud melakukan perbaikan semampu daya. Bila kemampuan ini ditambah oleh rakyat Indonesia pada pemilu 9 april besok, tentu perbaikan yang akan diwujudkan juga akan bertambah.

Bila diperhatikan secara teliti dan cermat, semua agenda perbaikan bangsa yang dilakukan PKS, semuanya adalah pengamalan dari syariat Islam secara aplikatif dan langsung menyentuh masyarakat. Bukankah pembinaan pemuda dan remaja bagian dari syariat? Bukankah membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah bagian dari syariat? Bukankah mendidik dan mencerdaskan anak bangsa adalah pelaksanaan dari ayat-ayat dan hadits Rasulullah? Bukankah memperbaiki jalan dan jembatan merupakan mottonya Umar bin Khattab yang pernah berkata: “kalau seekor keledai terjerembab di Bagdad, maka Umar akan ditanya oleh Allah, kenapa jalannya tidak diperbaiki…???”

Bukankah pengentasan kemiskinan, meningkatkan kemandirian petani, meminimalisir pornografi, meningkatkan kesejahteraan social dan sejenisnya, semua itu bagian dari syariat Islam? Itu baru yang sesuai dengan daya dan kemampuan PKS. Adapun merubah regulasi dan apalagi UU, itu sangat tergantung dengan “kemampuan” kader PKS di parlemen. Itu adalah pekerjaan bagi sipemilik 75% parlemen. Bila kemampuannya masih 8%, takkan mungkin melakukan itu semua.

PKS hanya bermaksud mewujudkan perbaikan sekuat kemampuan yang ada…

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang