.

.
Stumbleupon Favorites More

Ke Mana Tarbawi?

Awalnya dari salah satu grup WhatsApp saya mendapatkan informasi bahwa Tarbawi sudah berhenti terbit. Edisi terakhir yang saya tahu nomor 315 Maret 2014 (foto di atas). Tidak hanya berhenti menyajikan tulisan di majalah, laman penggemarnya di Facebook juga jarang diperbarui. Termutakhir akhir Mei 2014.

"Hilangnya" Tarbawi jelas kabar buruk. Cukup menyesakkan dada walau saya tidak rutin membelinya. Majalah yang konsisten mengulas bahasan seputar manajemen hati dan akhlak ini dikenal memiliki pembaca loyal. Sungguh mengherankan bila tidak terbit lagi. Padahal, oplah Tarbawi sekitar 5000 eksemplar. Sebuah angka yang cukup lumayan untuk terbitan media islamis.

Berhenti terbitnya Tarbawi jelas sebuah pukulan tersendiri bagi pembaca setianya yang bahkan sudah terbangun komunitasnya di beberapa kota besar. Meskipun pembaca setia tidak otomatis berlangganan, saya tetap yakin mereka mengikuti bahasan yang disajikan di Tarbawi. Terlebih lagi tema dan relevansinya selalu pas dengan keseharian. Situasi politik yang banyak menyita perdebatan sebenarnya momentum pas untuk mendarasi materi di Tarbawi. Maka, hilangnya Tarbawi dari pasaran jelas sebuah kerugian besar.

Dari Brian, seorang teman, saya mendapat informasi bahwa banyak pembaca Tarbawi yang menanyakan ihwal majalah ini. Nama Brian yang pernah dicantumkan sebagai agen Tarbawi di Yogyakarta menjadi ‘sasaran’ bertanya mereka. Padahal, teman saya ini sudah lama beralih profesi sehingga wajar saja tidak tahu bahwa Tarbawi sudah berhenti terbit.

Sumber dari orang dalam Tarbawi sendiri menyebutkan bahwa berhentinya terbit ini hanya sementara waktu. Menunggu pembenahan manajerial media. Aspek inilah yang dianggap titik lemah Tarbawi. Alih saham Tarbawi menjadi satu tantangan tersendiri di media ini. Pemilik baru merupakan orang sibuk lantaran berposisi pula sebagai wakil rakyat.

Beberapa nama yang beken selaku penulis di Tarbawi, karena satu-dua hal, terakhir kalinya sekadar jadi kontributor. Bila semula penulis ini kerap muncul, itu karena beliau memiliki tanggung jawab untuk mengisi terus rubrik-rubrik yang ada. Seiring dilepasnya saham kepemilikan beliau di Tarbawi, juga kesibukan lain selaku dai, posisi redaktur-tetap berganti menjadi kontributor.

Menjadi tantangan ketika pemegang saham mayoritas Tarbawi memiliki kesibukan ganda, sementara majalah ini kadung memenuhi ekspektasi pembaca loyalnya. Persoalan manajemen adalah persoalan klasik yang mendera media-media islamis. Bukan soal muatan ataupun isinya yang tidak berbobot, melainkan kegagalan menjaga kelangsungan media. Umat Islam pernah berbahagia memiliki Adil, Pandji Masyarakat, Suara Masjid, Kiblat, Republika, Sabili, dan Ummat. Sayangnya, soal manajemen yang tidak profesional dan bervsi ke depan menjadikan media-media ini gugur atau beralih pemilik (tentu denganwajah keislaman yang berbeda).

Tarbawi jelas sebuah aset umat. Bisa dimaklumi apabila investor pun melirik, meskipun baru sebatas kalangan Tarbiyah—sebagai basis komunitas pengelola dan pembaca utamanya. Investor yang pernah masuk adalah seorang mantan ketua umum gerakan mahasiswa yang ketika itu politisi di Senayan. Sayang, keberadaannya tidak bertahan lama.

Saya dan banyak pembaca setia Tarbawi tentu berharap media penyejuk hati ini hadir kembali. Tentu saja dengan pengelolaan yang matang sehingga pelanggan tidak khawatir apakah bulan esok akan terbit lagi ataukah tidak. (yusufmaulana.com)

Tahun Baru Islam, Momentum Indonesia Hijrah Jadi Lebih Baik

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Al Habsy berharap Tahun Baru Islam 1 Muharram 1936 menjadi titik menuju perubahan yang lebih baik. Ia menggambarkan hijrah yang berarti "pindah", sama seperti dialami Indonesia saat ini, kekuasaan berpindah tangan dari Susilo Bambang Yudhoyono ke Joko Widodo. "Dan kepemimpinan baru juga mestinya Indonesia lebih baik lagi," kata Aboe Bakar di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (23/10).

Menyangkut rencana Jokowi yang ingin menetapkan 1 Muharram sebagai Hari Santri, Aboe mempersilakan saja. Namun, dia mengingatkan peristiwa-peristiwa yang terjadi menuntut keberpihakan sejarah, mengenai kapan pertama kali dimulainya kejadian tersebut untuk menjadikannya sebagai hari bersejarah.

"Tidak usah diperdebatkan," dia berpesan.

Aboe menceritakan sejarah Tahun Baru Islam ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, itulah yang dijadikan titik tolak menjadi tanggal 1 Muharram. Kemudian dari situ dapat dilihat setiap tahun baru itu adalah peristiwa sejarah yang mendasar dan menarik.

"Sebuah perubahan, perubahan dari semua yang buruk kepada yang baik, begitu saja pada Islam," kata dia.

PKS, kata Aboe, banyak mengadakan aktivitas di daerah-daerah dan DPD-DPD, biasanya muhasabah (evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya, Red).

"Dilakukan tabligh akbar di setiap daerah, muhasabah-muhasabah di tingkat struktur, itu hal yang biasa," kata dia. (satuharapan)

Pak Presiden, Banyak Orang Bersih Kenapa Harus Ngotot yang 'Kotor'?

Harapan publik begitu tinggi menggantung pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam memimpin Indonesia. Termasuk pemilihan kabinet yang diisi oleh figur yang jauh dari lingkaran korupsi. Tidak sedikit orang yang mumpuni di bidangnya, sehingga Presiden tidak harus bingung dalam menentukan siapa pembantunya kelak.

"Stok orang baik di negeri ini yang punya kompetensi, mumpuni di bidangnya banyak. Kenapa harus ngotot mengambil catatan orang-orang bermasalah yang karena dekat dengan kelompok-kelompok penekan?" kata pakar Psikologi Politik Hamdi Muluk saat berbincang dengan detikcom, Kamis (23/10/2014).

Menurut Hamdi, publik memiliki kriteria ideal yang diinginkan dalam kabinet Jokowi-JK kelak. Publik juga akan menunggu siapa figur-figur kuat dan terbaik di republik ini yang akan duduk di kabinet.

Namun, bila publik menilai Jokowi-JK dianggap salah dalam memilih figur di kabinet, maka akan berisiko. "Yang ditunggu publik adalah figur yang sesuai dengan visi-misi Jokowi yang memiliki komitmen dalam menjalankan pemerintahan," jelas Hamdi.

Terkait dengan beredarnya nama-nama calon menteri yang seharusnya merupakan bagian dari dokumen rahasia, Hamdi menilai ini adalah langkah 'diam-diam' Jokowi untuk membeberkan nama-nama itu ke publik agar publik memberikan penilaian.

Hal ini dilakukan karena kemungkinan adanya kelompok penekan yang memasukan nama-nama tersebut ke daftar calon menteri. "Padahal nama-nama yang dititipkan itu mendapatkan penolakan dari publik yang diwakili KPK-PPATK, sehingga ini dijadikan senjata untuk melawan balik agar nama-nama tersebut dikeluarkan dari daftar," jelas Hamdi. (detik)

Etnis Cina, Pribumi, Balada Superioritas, Inferioritas dan Hijrah

Kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh etnis dan bangsanya tapi oleh ketakwaanya. Setiap manusia dinilai bukan oleh asal-usul keturunannya tapi oleh amal perbuatannya. Al-Quran mengajarkan kita agar di antara beragam suku dan bangsa mengembangkan sikap saling bertaaruf (kenal mengenal).

Kita tak pernah meminta dilahirkan dari suatu etnis tertentu. Kebaikan dan kedurhakaan, ia bisa terlahir dari siapapun. Dari keluarga terdekat Firaun sekalipun, bisa terlahir suatu kebajikan yang luar biasa. Sebaliknya, dari keluarga terdekat seorang nabi sekalipun, bisa terlahir sebuah kedurhakaan yang besar.

Tetapi ada sebuah realitas yang sedang kita hadapi, dirasakan dari sebuah potret ketimpangan, salah satu pihak identik dengan superioritas, sedang pihak lain identik dengan inferioritas, untuk tidak terburu-buru mengidentikkan dengan dominasi dan marjinalisasi.

Dari sebuah realitas, segelintir kalangan tertentu menikmati sebagian besar kekayaan negeri, sedang sebagian besar dari penduduknya berada dalam kesulitan hidup. Mereka bersusah payah bekerja membanting tulang, di antara kesuburan dan kekayaan negeri, tetapi hasilnya seperti tak sepadan dengan jerih payahnya. Menyandang status sebagai pribumi, tetapi menerima kenyataan terus terdesak di kampung halamannya sendiri.

Potret kecil dari rahasia pintu rezeki anak manusia yang melakukan hijrah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, mereka dijanjikan akan mendapat apa yang diniatkannya, baik untuk tujuan-tujuan duniawi maupun untuk tujuan agama.

Seringkali para pendatang di perantauannya lebih sukses dalam menjalankan usahanya, mereka mampu mengungguli penduduk aslinya. Dalam suasana di perantauan, berhadapan dengan tantangan dan kesulitannya, biasanya mereka lebih memiliki spirit, motivasi hidup dan profesionalitas, bertekun menjalani hidup dalam keprihatinan. Berkebalikan dengan penduduk asli yang merasa nyaman hidup di tanah kelahirannya sendiri, dan cenderung berakibat memiliki mental santai.

Introspeksi ke dalam, menjadi hal pertama dan bijak bagi pribumi. Mengoreksi kekurangan diri, tentang kurangnya semangat, etos kerja dan keuletan. Kelemahan dari sisi menjalankan manajemen dan strategi bisnisnya. Hal tersebut menjadi faktor penghambat kemajuan kemajuan dari dalam.

Di luar itu, ada faktor eksternal yang tak bisa dipungkiri, ada upaya untuk mengkondisikan pribumi agar berada dalam keadaan inferior. Di samping kelemahan dari dalam, mereka harus menghadapi kompetisi yang tidak fair, ketidakadilan sistematis dan pelemahan terstruktur dari suatu kekuatan luar.

Sehingga bukannya tanpa masalah, kesuksesan kaum pendatang sering berimplikasi pada tingginya risiko, kecemburuan yang timbul, bahkan bisa terakumulasi pada kemarahan sosial, apalagi bila disertai sentimen SARA dan politik. Sekalipun kesuksesan tersebut dicapai dengan cara fair, tetap ada potensi beban sosial, apalagi bila ada unsur kompetisi tidak sehat di dalamnya. Di antara ketimpangan yang terjadi, ada hal yang perlu dimengerti, penduduk asli yang memiliki perasaan bahwa mereka lebih dahulu mendiami tempat tersebut.

Di antara dua pilihan untuk membayar beban sosial tersebut, antara meredamnya dengan bersikap yang baik terhadap penduduk asli, menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi dan mengulurkan kepedulian. Atau jika tidak, meredamnya dengan mengedepankan angkara dan keserakahan, mengukuhkan dominasi melalui cengkeraman yang membuat pihak lemah dalam kondisi tak berdaya, pelemahan sistematis secara politik, struktur sosial dan berbagai aspek kehidupan lain.

Sebuah harapan di satu sisi, terjalin sebuah hubungan yang positif, pihak yang kuat menolong mereka yang lemah, saling bekerjasama untuk kebaikan bersama. Tetapi juga sebuah kekhawatiran di sisi lain, dikedepankannya nafsu dan angkara, suatu pihak berupaya mendominasi dan menihilkan pihak lain. Bukan hanya melemahkan secara fisik dan mental, bahkan dalam gambaran terburuk, sejarah panjang penaklukkan dan penjajahan bangsa-bangsa, sampai kepada kemungkinan terburuk, upaya yang mengarah pada pemusnahan bangsa lain sebagaimana yang dialami bangsa Indian, Aborigin dan Maori.

Di antara cinta dan kebencian, di antara persahabatan dan permusuhan, dunia ini mungkin bukan tempat meminta belas kasihan, ia lebih banyak memaksa untuk bersaing bahkan bertarung memperebutkan supremasinya.

Silih berganti berbagai bangsa hadir di nusantara ini, disambut dengan tangan terbuka, tetapi adakalanya berbalas lain, cengkeraman kolonialisme dan eksploitasi. Tumbuhnya nafsu serakah atas kekayaan dan kesuburan sebuah negeri. Suatu bangsa yang merasa tanah airnya terlalu sempit, terpikat dengan kesuburan dan kekayaan negeri lain, dan akhirnya berhasrat menguasainya. Setidaknya menjadi suatu kewaspadaan bagi masa depan bangsa ini, bahwa untuk bisa mempertahankan eksistensinya, menuntut suatu perjuangan dan pengorbanan, tidak bisa diniscayakan lagi.

Sebagai muslim kita patut bersyukur, Islam datang ke berbagai penjuru dunia tidak dengan spirit menjajah dan mengeksploitasi, tetapi dengan motivasi dakwah, transfer ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban. Islam datang ke Nusantara ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam. Bukan Islam yang memusnahkan bangsa Indian, Aborigin dan Maori. Bukan Islam yang melakukan perbudakan bangsa kulit hitam secara masif. Islam datang ke Andalusia bukan untuk dieksploitasi, tetapi membebaskannya dari ketidakadilan dan membawanya menjadi sebuah puncak kemajuan peradaban. Islam datang dengan spirit membawa rahmat, keselamatan, berbagi dan taawun (tolong-menolong), bukan menghisap dan merampas.

Di antara dunia yang mengedepankan spirit individualistik dan ego, Islam bisa menjadi sebuah jembatan bagi terwujudnya jalinan kasih sayang dan perdamaian. Keimanan yang sebenarnya, menumbuhkan sebuah orientasi bahwa superioritas bukan didapatkan dengan merampas dan menaklukkan, tetapi dengan memberi dan berbagi.

Namun ada sebuah konsekwensi, Islam menjadi penghalang terbesar tegaknya kebatilan, sehingga Islam harus melewati berbagai stigma buruk di antara pertarungan kebenaran dan kebatilan tersebut, dan ini menjadi ujian bagi kita dalam membawakan Islam pada percaturan dunia.

Realitas di negeri ini, termasuk Islam telah menjadi jembatan antara etnis cina dan pribumi, menjadi sebuah asimilasi yang sebenarnya, tanpa menyisakan sekat. Ia meluruhkan angkara, sekaligus menepis prasangka. Namun sayang, jembatan yang telah terhubung tersebut masih terlalu kecil untuk dua entitas yang teramat besar.

Dengan Islam, kecemburuan akan dunia diredam dengan keyakinan akan akhirat. Bahwasanya kejayaan dan kesenangan duniawi tak ada artinya dibandingkan dengan kebajikan dan amal shalih untuk akhirat (Al Baqarah: 212, Ali Imran: 14-15, Al Kahfi: 45-46). Tetapi kesempurnaan Islam juga menempatkan dunia sebagai sawah ladang akhirat, kekuatan dunia adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan membebaskan orang-orang lemah dari kesewenang-wenangan. bahwasanya kemiskinan akan mendekatkan kepada kekufuran. Sebuah motivasi agar umat ini tidak menjadi lemah, tetapi menjadi kekuatan yang sinergis dengan tugasnya sebagai khalifah, tugas untuk memakmurkan dunia.

Bukan untuk mengharap belas kasih, tetapi untuk menghadapi tantangannya. Memang Tuhan memberikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki dan mencabut kerajaan dari orang yang Dia kehendaki. Memuliakan orang yang Dia kehendaki dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Dan Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Tetapi Allah telah telah menegaskan bahwasanya Dia tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri.

Muhamad Fauzi
Dakwatuna

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang