.

.
Stumbleupon Favorites More

13 ‘Jagoan’ PKS di Pilkada Jateng

SEMARANG (29/7) – Komisi Pemilihan Umum Daerah Jawa Tengah menyatakan dari 21 Kabupaten/Kota, ada 57 bakal pasangan calon bupati dan wali kota yang mendaftar pemilihan kepala daerah. PKS pun turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi yang akan digelar serempak pada 9 Desember mendatang melalui 13 pasang calon yang diusungnya di Pilkada Jawa Tengah (Jateng).

Berikut ini daftar pasangan calon yang diusung PKS pada pilkada Jawa Tengah tersebut:

Purbalingga, pasangan Tasdi-Dyah Hayuning Pratiwi yang diusung PKS, PDIP, Gerindra, PAN, dan NasDem.

Kota Semarang, pasangan Soemarmo-Zuber Safawi yang diusung PKS dan PKB.

Kabupaten Kebumen, pasangan Khayub Mohammad Lutfi-Akhmad Bakrun yang diusung PKS, Golkar, dan NasDem.

Kabupaten Semarang, pasangan Nur Jatmiko-Mas'ud Ridwan yang diusung PKS, PKB, Golkar, dan Hanura.

Kabupaten Wonosobo,  pasangan Eko Purnomo-Agus Subagyo yang diusung PKS, Hanura, Golkar, dan PPP.

Kabupaten Boyolali, pasangan Agus Purmanto-Sugiarto yang diusung PKS, Gerindra, dan PKB.

Kabupaten Klaten, pasangan Suhardjanto-Sunardi yang diusung PKS, Gerindra, dan Hanura.

Kabupaten Wonogiri, pasangan Hamid Noor Yasin-Wawan Setya Nugraha yang diusung PKS, PAN, Gerindra, dan Demokrat.

Kabupaten Sragen, pasangan Kusdinar Untung Yuni Sukowati-Dedy Endriyatno yang diusung PKS dan Gerindra.

Kabupaten Rembang, pasangan Sunarto-Kuntum Khairu Basa yang diusung PKS dan Demokrat.

Kabupaten Kendal, pasangan Mirna Annisa-Masrur Masykur yang diusung PKS, Hanura, dan Gerindra.

Kabupaten Pemalang, pasangan Mukti Agung Wibowo-Afifudin yang diusung PKS, PAN, dan Hanura.

Kota Surakarta,  pasangan Anung Indro Susanto-Muhammad Fajri yang diusung PKS, Demokrat, Gerindra, dan PAN.

Mendaftar ke KPU, Jatmiko Sopiri Angkot dan Masud Kernetnya

Ungaran - Senin (27/7/2015) sekitar pukul 13.00, tim partai politik (parpol) pengusung pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Semarang bersiap diri untuk mengawal Nur Jatmiko dan Mas'ud Ridwal. Tidak sekadar mengusung, mereka juga menyiapkan satu unit angkutan kota (angkot) warna kuning telur berplat H 1366 CC.

Di angkot tersebut, Nur Jatmiko jadi sopir dan bertindak sebagai kernet adalah Mas'ud Ridwan.

Nur Jatmiko adalah seorang pengusaha asal Ambarawa dan Mas'ud Ridwan adalah Ketua DPC PKB Kabupaten Semarang. Mereka diusung oleh lima partai yakni PKB, PKS, Golkar, PPP, dan Hanura. Total suara di DPRD dari seluruh partai itu sebanyak 22 kursi. Selain itu, Nasdem sebagai pendukung dalam pencalonan.

Sesampainya di depan kantor KPU Jalan Ahmad Yani Nomor 6 Ungaran Kabupaten Semarang, calon berikut tim Jatimas (Nur Jatmiko-Mas'ud Ridwan), disambut Ketua KPU Guntur Suhawan berikut anggota yang mengenakan pakaian adat Jawa. Setelah beristirahat, semua digiring ke lantai II untuk prosesi pendaftaran dan serah terima berkas.

"Fokus kami adalah kesejahteraan masyarakat. Jika melihat ke bawah, masih banyak mereka yang belum sejahtera. Itu dapat dilihat dari mereka yang memanfaatkan angkot. Itu yang menjadi simbol saat kami mendaftarkan diri ke KPU Kabupaten Semarang," kata Nur Jatmiko kepada Tribun Jateng, Senin (27/7).

Dia menyatakan, guna merealisasikan fokus itu pihaknya berkomitmen paling tidak meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) di berbagai sektor seperti pertanian, home industri, hingga ekonomi kreatif. Tanda masyarakat sejahtera, minimal mereka memiliki sepeda motor.

"Kami optimis hal itu bisa terwujud ketika dipercaya untuk memimpin Kabupaten Semarang ke depannya. Itu tak sekadar janji, tetapi akan kami realisasikan. Sopir adalah nahkoda dan saya kernet yang akan mendampingi sehingga sejalan dengan seluruh program pemerintah," tambah Mas'ud Ridwan. (tribun)

Siapa "Emak Salatiga" dan Mengapa Kita Harus Silaturahim ke Rumahnya?

Oleh: Cahyadi Takariyawan

Ini pelajaran sejarah dakwah. Semoga semua kader mengerti.

(1)

Syahdan.

Sekitar tahun 1988 kita di DIY dan Jawa Tengah mulai mengenal tarbiyah. Kita mulai ngaji rutin dan melakukan rekrutmen tarbawi.

Tahun 1989 makin intensif konsolidasinya.Di tengah represivitas pemerintah Orba, kita terus bergerak dan berkonsolidasi.

Tidak ada tempat aman di negeri ini. Semua tempat dicurigai. Banyak kegiatan keislaman dibubarkan dan dipermasalahkanaparat keamanan.

Dimana-mana penuh intel. Semua kegiatan dakwah diawasi.

(2)

Sampai salah seorang di antara kami mulai mengajak berkegitan di rumahnya. Rumah yang sekaligus menjadi Pondok Pesantren tradisional.

Pondok ini kecil saja dan sangat tradisional coraknya.

Di Pondok ini semua kegiatan kita aman dan terlindungi. Pak Kyai sangat disegani dan dihormati.

Karena merasa aman dan damai inilah akhirnya kita selalu mengadakan konsolidasi di sini. Daurah rekrutmen, daurah tarqiyah, tatsqif, mabit, rapat koordinasi, semua dilakukan di Pondok ini.

Aman dan damai. Ini markas yang pertama kali kita punyai.

Bangunan pondok dan rumah induk Sang Kyai sangat sederhana. Hanya berdinding kayu. Duduk lesehan beralas tikar. Toilet pun masih sangat sederhana. Mirip sebuah 'loket'.

(3)

Pondok ini menjadi saksi pertumbuhan dakwah kita. Kita 'klesotan' berhari-hari untuk daurah dan konsolidasi.

Peserta berdatangan dari Jawa Tengah dan DIY, naik bus semua. Tidak ada yang punya motor atau mobil.

Datang mengikuti acara daurah, mabit dan rapat koordinasi tanpa pernah berpikir membayar untuk kontribusi. Bisa membeli tiket bis untuk datang saja sudah bersyukur.

Makan sehari tiga kali. Tidur, mandi dan berkegiatan di Pondok. Semua gratis. Pak Kyai dan keluarganya sangat baik hati menjamu dan melayani kami.

Mengapa gratis? Karena kita semua fuqara wa masakin. Tidak ada yang punya uang. Kurus kurus namun tulus tulus. Dan no fulus.

Jadi kita tidak pernah berani bertanya "perlu bayar berapa" untuk semua fasilitas itu. Karena kalaupun tahu jawaban, tidak ada yang bisa membayarnya.

Lebih baik diam. Sambil berdoa. Semoga Allah berikan rejeki berlipat dan berkah kepada Pak Kyai beserta keluarga.

Kami masih bujang waktu mulai aktif berkoordinasi di Pondok ini. Masih pada kuliah dan tidak memiliki cukup uang. Modal kami hanya semangat.

(4)

Adalah Bu Nyai. Ia Nyai yang baik hati. Setiap kami datang selalu disuguhi. Makan yang enak, minum yang panas dan manis. Semua gratis.

Bu Nyai memasak di dapur bersama anak-anak perempuan beliau dibantu santriwati. Memasak untuk kami. Yang selalu datang pergi tanpa pernah berkontribusi.

Hingga suatu masa, kami sudah pada menikah. Era tahun 1991-an. Kami datang bersama para istri untuk berkegiatan di Pondok.

Para istri ikut ke dapur membantu Bu Nyai memasak dan menyiapkan makanan. Dari interaksi ini para istri kami mulai mengerti isi dapur Bu Nyai.

(5)

Para istri menyarankan agar setiap berkegiatan kita harus ikut berkontribusi. Semua peserta daurah, mabit atau rapat koordinasi bisa berinfak sukarela untuk meringankan beban Bu Nyai.

Pak Kyai maupun Bu Nyai tidak pernah meminta dibantu. Namun kita yang harus mengerti, karena ini semua program kita sendiri. Bukan program Pak Kyai.

(6)

Hari berganti, bulan berlalu tahun pun berlarian. Mihwar dakwah makin berkembang. Hingga kita berada pada mihwar mu'assasi.

Para kader DIY dan Jawa Tengah yang biasa 'klesotan' di Pondok itu, kini sudah menjadi pejabat publik.

Ada yang menjadi anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, Kabupaten dan Kota. Sebagian lagi menjadi pejabat eksekutif.

Pak Kyai yang baik hati sudah pergi, dipanggil menghadap Ilahi. Tinggal Bu Nyai bersama para santri.

Pondok kecil itu kini mulai berkembang. Dikelola putra, putri, menantu dan cucu. Masjidnya tambah besar. Lingkungan Pondok kian ramai.

Toiletnya pun bukan 'loket' lagi. Tampak kemajuan di sana-sini. Alhamdulillah, bahagia menyaksikan itu senua.

(7)

Kini, saksi sejarah dan pembela dakwah kita di masa awal yang penuh dinamika itu masih ada di Salatiga.

Saya memanggil beliau "Emak Salatiga". Bu Nyai itu, sekarang sudah tua tapi selalu terlihat ketulusan dan keramahannya.

Masakannya itu..... Selalu menggoda selera. Nasi, sop panas, sambal tomat, tempe goreng dan karak kedelai. Menu yang selalu kami tunggu....

Emak selalu mengingat kami dan perilaku kami.

"Mas Cahyadi dulu kurus...."

"Orang-orang ini tahunya makanan hanya dua macam: enak dan enak sekali...."

Begitu Emak menyapa kami saat ini. Menyatakan keakraban pada semua dari kita.

Melihat wajah Emak Salatiga, walau setahun sekali, selalu mengingatkan kepada masa awal pertumbuhan dakwah kita.

Beliau adalah Emak dari dakwah kita di DIY dan Jawa Tengah. Beliau pembela dakwah kita di saat kita masih kecil dan lemah.

Mumpung beliau masih ada, datang dan sungkemlah kepadanya. Jasa beliau tiada terkira besarnya.

Semoga Allah berikan Emak kesehatan dan umur panjang serta hidup yang berkah.

Semoga kelak --jika tiba masanya-- Emak husnul khatimah. Aamiin.

Ayo kunjungi Emak. Mumpung monentum Syawalan. Emak Salatiga, salah satu tonggak sejarah dakwah kita yang masih tersisa.

Facebook Ust. M As'ad Mahmud

Jangan Takut dengan Tekanan Hidup

Petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu.
Mengapa biji itu harus ditutup batu?

Ternyata, batu itu akan memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan di atasnya. 

"DITEKAN DARI ATAS, SUPAYA KITA BISA BERAKAR KUAT KE BAWAH"

Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa?

Sekarang kita tahu mengapa Allah kerap mengizinkan tekanan hidup datang dalam hidup kita. Bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita. Sebaliknya Allah mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat.

Tidak sekadar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yang selama ini menekan. Kita pun keluar menjadi pemenang kehidupan. 

Allah mendesain kita seperti pohon kurma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat dan tegar menghadapi beratnya kehidupan. 

Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan.

Semoga kitalah para pemenang kehidupan itu. Aamiiin..

Disarikan dari nasihat : KH. Rahmat Abdullah (Allaahu Yarham)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang