.

.
Stumbleupon Favorites More

Peringatan Hari Pendidikan Nasional….Hanya Formalitas saja???

Setiap tahunnya kita selalu memperingati hari pendidikan Nasional, namun sekarang peringatan itu sekedar formalitas saja, hanya melaksanakan upacara peringatan, lalu selesai…. Apa sih yang bisa kita ambil dari peringatan hari pendidikan Nasional ini?

Yang seharusnya dilakukan dalam memperingati hari pendidikan nasional adalah selalu memperbaiki keadaan pendidikan di Negara kita setiap waktunya dan dievaluasi setiap tahunnya. Mendengar kata pendidikan sudah pastilah yang teringat oleh kita pendidik serta yang di didik. Keduanya merupakan faktor penting bagi kemajuan pendidikan Negara ini selain adanya faktor pendukung lainnya. Bagaimanakah fakta keadaan  pendidikan Negara kita saat ini ?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sendiri telah menyebutkan bahwa pendidikan kita saat ini berada dalam kondisi gawat darurat, mengacu pada hasil survey PISA ( Programme For Internasional Study Assessment) yang menempatkan pendidikan di Negara Indonesia pada rangking 64 dari 65 negara dikarenakan pendidikan kita yang tetap di tempat dari waktu ke waktu.

Realita yang kita lihat saat ini masih banyak siswa yang belum menerapkan apa yang telah didapatkan dalam pendidikan disekolah, contohnya masalah kejujuran serta tata karma. Kejujuran merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh seseorang. Mungkin kita telah mendapatkan pelajaran tentang kejujuran sejak kecil tapi untuk menerapkannya hingga saat sekarang mungkin masih belum kita lakukan. Sangat memprihatinkan sekali kondisi pendidikan kita saat ini, semakin majunya teknologi saat ini seharusnya membantu memajukan pendidikan namun sebaliknya, semakin berkembangnya teknologi malah disalahgunakan untuk hal yang tidak penting dan kita lihat saat ini kebanyakan anak-anak lebih suka menggunakan internet dari pada sekolah, belajar, membaca buku apalagi menambah ilmu pengetahuan agamanya. Hal yang sangat miris….

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Yang pertama harus kita lakukakan adalah meningkatkan kualitas pendidikan dari pendidik sendiri dengan iman dan ilmu. Keduanya merupakan modal utama bagi seorang pendidik untuk diberikan kepada siswanya.

Sebagaimana Allah berfirman di dalam Surat Al Mujadillah ayat 11
Yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu : “berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “ berdirilah kamu”, maka berdirilah niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Apabila pendidik dan siswanya telah menerapkan keduanya maka pastilah pendidikan di Negaara ini akan berkembang, apalagi jika ditambah dengan kesadaran orang tua, masyarakat dan pemerintah sendiri untuk sama-sama memajukan pendidikan di Negara ini. Usaha yang dapat dilakukan pemerintah pasti dengan adanya bantuan biaya sekolah bagi siswa yang tidak mampu serta kepedulian yang tinggi terhadap masalah pendidikan ini, karena yang menentukan suatu Negara di nilai maju adalah dari pendidikannya.

by: Dita Rabbani Aidil
Portal Rabbani

Indonesia Butuh Kader Bangsa yang Bertanggungjawab

Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) DPP PKS Surahman Hidayat menilai Indonesia membutuhkan kader-kader bangsa yang bertanggung jawab, bisa mengelola diri, lingkungan, dan negerinya. Karena menurutnya, tanggal 2 Mei bukan semata-mata peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). 2 Mei merupakan momen mengingat dan memahami kembali makna pendidikan bagi bangsa, tidak hanya dari segi tataran umum, tetapi lebih dalam dan kualitatif, yaitu kekaderan.

Surahman menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Kantor DPP PKS, MD Building, Jakarta, Sabtu (2/5). Ia mengatakan hasil pendidikan kekaderan dapat dilihat dari kemunculan tokoh-tokoh nasional di setiap dekade. Tokoh-tokoh itu lahir tidak hanya berbasis keterampilan keras (hard skills) seperti ilmu atau keahlian tertentu, tetapi juga keterampilan lunak (soft skills) berupa karakter dan kepribadian yang tangguh.

“Keterampilan lunak dapat mengendalikan diri seseorang saat bertindak atau mengambil keputusan. Ini perlu ditekankan. Apalagi di akhir tahun 2015 Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masing-masing negara ASEAN akan berusaha menawarkan konsep pendidikannya. Indonesia pun harus siap berbaur, tetapi tidak harus melebur. Nah, disinilah karakter tangguh dibutuhkan agar kita bisa memegang teguh akar budaya, nilai, dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia,” kata Surahman.

Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI itu menyoroti pentingnya pembinaan karakter karena pendidikan tidak sekedar memberi ilmu atau keterampilan. Menurutnya, pendidikan ialah tentang kebermanfaatan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Sehingga, apapun ilmu yang dipelajari, bila tidak memberi manfaat dapat berbalik arah, bahkan membawa kerugian.

“Pendidikan nasional itu bagaikan sebuah bangunan besar yang sudah ada sejak dahulu. Tentu kita melanjutkan, mana yang perlu ditambah atau justru ditambal agar menjadi bangunan kokoh, megah, dan siap menampung siapa saja yang membutuhkan keteduhan serta perlindungan. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan nasional diperlukan evaluasi menyeluruh dari waktu ke waktu. Agar perjalanan itu bisa lurus menuju cita-cita sebagaimana tujuan nasional,” ujarnya.

Anggota Komisi X DPR RI yang bekerja dalam ruang lingkup pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda, olahraga, dan perpustakaan tersebut menilai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) sudah cukup baik. Ia berharap pemerintah dapat memanifestasikan prinsip-prinsip UU Sisdiknas kedalam berbagai program yang tepat sasaran.

“Tujuan pendidikan itu kan melahirkan suatu potensi yang baik. Tinggal bagaimana potensi baik ini dipupuk, sedangkan potensi-potensi negatif diminimalisasi. Karena memang manusia dasarnya begitu, punya pilihan mengembangkan potensi di dua arah, baik atau buruk. Sedangkan saat ini banyak kita lihat anak-anak sekolah juga mahasiswa memiliki cukup waktu untuk hura-hura. Padahal, waktu-waktu tersebut bisa untuk menggali bakat masing-masing, kemudian berkompetisi menghasilkan karya atau penemuan baru,” lanjutnya.

Bangsa Indonesia, tambah Surahman, harus semakin yakin bahwa pendidikan dapat menjadikan manusia lebih dewasa, manusiawi, dan beradab. Hasil pendidikan berkualitas dapat dimanfaatkan untuk membangun sektor ekonomi, politik, maupun budaya. Namun apabila esensi pendidikan ini tidak diyakini secara tepat, Surahman menyebut masyarakat hanya akan menjadi alat pihak-pihak tertentu.


“Misalnya ketika masa pemilihan umum (pemilu) masyarakat suatu wilayah dimanfaatkan untuk menarik suara, setelah itu dibuang saja. Kemudian muncul penyesalan karena salah pilih atau merasa kebijakan tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Kondisi ini tentu sangat merugikan bila terus terjadi. Oleh karena itu, kita harus meyakini bahwa pendidikan memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya memerlukan pendidikan,” pungkasnya. (pks.or.id)

PKS Terus Kawal Kesejahteraan Buruh

Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Martri Agung mengaku bersyukur karena Indonesia saat ini telah menetapkan Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei sebagai Hari Besar Nasional. Karena Martri menilai, buruh merupakan elemen yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia, sehingga kesejahteraannya harus selalu dijaga.


“Buruh merupakan salah satu stakeholder dalam pembangunan atau perekonomian Indonesia. Tidak mungkin ekonomi bergerak tanpa adanya buruh. Jadi itu salah satu fakta, mau tidak mau Indonesia akan bangkit dan maju ketika buruhnya pun sejahtera. Ketika kesejahteraan buruh terjaga, mereka bekerja jadi lebih tenang, lebih aman, sehingga akhirnya produktifitas kerja pun meningkat” ungkap Martri  saat ditemui di Gedung DPP PKS, Rabu (29/4).

Dari awal pembentukannya, PKS memang sudah fokus terhadap isu perburuhan. Hal tersebut terbukti dengan adanya bidang khusus bagi buruh beserta dengan tani dan nelayan. Dalam bidang tersebut, para Kader PKS fokus memberikan pembinaan dan program-program terkait dengan perburuhan bersama dengan serikat pekerja maupun federasi dan konfederasi pekerja di Indonesia.

PKS, ujar Martri, selalu mendukung elemen buruh dalam melakukan advokasi. Tak hanya lewat agenda pengawalan langsung, PKS pun turut serta dalam mengawal perundang-undangan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.

“Bersama dengan federasi dan konfederasi, Departemen Buruh DPP PKS beserta anggota legislatif baik tingkat DPR RI maupun DPRD Provinsi/Kabupaten selalu melakukan komunikasi dengan organisasi-organisasi atau serikat pekerja dalam membahas peraturan perundangan. Baik di tingkat pusat sebagai Undang-Undang maupun di tingkat daerah dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) yang terkait dengan tenaga kerja atau buruh,” jelas Martri.

Martri menambahkan untuk gerakan di Hari Buruh tahun ini, PKS akan turun bersama rekan-rekan buruh menyuarakan tuntutannya diantaranya pemberlakuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) secara konsisten dan transparan terkait jaminan kesehatan dan jaminan pensiun serta pembubaran pengadilan hubungan industrial yang justru merugikan buruh.

Lebih lanjut Martri pun menuturkan ada beberapa isu tentang perburuhan yang sedang dikawal PKS lewat Komisi IX DPR RI, yakni revisi Undang-Undang Nomor 39 tentang Tenaga Kerja Luar Negeri, pembubaran peradilan perselisihan industrial, serta penolakan upah murah.

Tak lupa Martri pun berpesan kepada rekan-rekan buruh yang akan melakukan aksi hari ini, agar senantiasa menjaga ketertibannya terutama di pusat-pusat keramaian.

“Karena sebenarnya masyarakat akan simpati kepada gerakan kita, ketika kita bisa menjaga ketertiban dan kenyamanan khalayak luas,” pungkasnya. (kabarpks)


Keterangan foto: Muhammad Martri Agung, Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan DPP PKS.

Kader Elemen Penting Eksistensi Lembaga Dakwah

Bagi sebuah entitas partai politik, kader merupakan elemen penting dalam menjaga eksistensi lembaga di tengah masyarakat. Apalagi dalam aspek dakwah, penguatan dan rekrutmen kader menjadi keniscayaan. Hal ini disampaikan Ketua DPC PKS Jati Asih, Tunggul Pamungkas dalam sambutannya di Workshop Kaderisasi, Bekasi, Ahad (26/4).

"Sebagai partai politik yang juga mengusung sebagai organisasi dakwah, maka kuantitas dan kualitas kader menjadi elemen penting dalam perkembangan organisasi," ujarnya di hadapan para peserta.

Kegiatan workshop yang diikuti oleh 70 orang pengurus kaderisasi dari perwakilan masing masing kelurahan ini diawali dengan taujih dari Ahmad Zaki. Dalam taujihnya, tokoh yang akrab disapa Ustadz Zaki tersebut mengatakan dalam era keterbukaan dan kebebasan saat ini, persaingan ber-fastabiqul khoirat (berlomba-lomba dalam kebaikan) semakin semarak.
“Oleh karena itu, kader PKS dituntut untuk lebih kreatif dan menyatu dengan masyarakat dalam menyampaikan dakwah Islam," ujar Ustadz yang berdomisili di Jatisari ini.
Di kesempatan yang sama, Ketua Bidang Kaderisasi DPC PKS Jati Asih, Bogie Satrio menegaskan setiap kader harus mampu mendekati masyarakat, sehingga mereka mendukung atau bahkan terlibat dalam setiap aktivitas dakwah.

"Setiap kader PKS yang sudah berkomitmen dalam garis perjuangan partai, harus mampu mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan dakwah Islam," tegas pria yang sering disapa Ustadz Bogie itu.

Workshop yang diselenggarakan selama satu hari tersebut juga mengevaluasi kondisi kader dan program-program kaderisasi DPC PKS Jati Asih, Bekasi yang akan dicanangkan tahun 2015. (kabarpks)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang