.

.
Stumbleupon Favorites More

Kita Tahu, Kita Paham

Takdir.
Seberapa pun inginnya, tidak akan terjadi tanpa izin dari Raja Semesta
Seberapa pun rindu, tidak akan luruh tanpa ketetapan-Nya
Namun seberapa butuh kita, Dia lebih tahu detailnya

Gamang. Kita seringkali merasa hampa atas sesuatu yang tidak kita mengerti. Bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa. Bahkan atas semua pertanyaan itu sebenarnya kita sudah tahu jawabannya. Bahkan atas setiap kesedihan hati dan kesempitan jiwa yang kita rasakan sebenarnya kita sudah tahu harus bagaimana. Hanya saja… sulit. Pertarungan sengit antara mau dan tidak mau menerima keadaan seringkali terjadi. Bagaimanapun, pengendali hati sepenuhnya adalah diri kita sendiri.
“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah: 214)
Hafal. Ayat itu sering kita temukan dalam setiap jawaban pertanyaan para penghamba. Sungguh membesarkan hati yang mengerut. Menenangkan jiwa yang kalut. Amat dekat. Saat gelap sudah semakin pekat, artinya pagi akan segera datang. Allah ingin kita bertahan. Sedikit lagi saja. Kita tahu hal ini, kita paham. Hanya saja penerimaan tidak selalu datang begitu saja. Terkadang kita justru menikmati berenang dalam duka kesedihan. Menyelam dalam ketidakterimaan. Tenggelam dalam putus asa, membiarkan mimpi itu pergi begitu saja. Berhenti mengejarnya. Menyerah.
”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)
Tidak pernah habis ayat-Nya menuntun setiap urusan kita. Jelas. terang. Sabar dan shalat, dua cara yang menjadi bekal kita mengarungi kehidupan ini, Tidak kurang, tidak lebih. Bersabar bahwa ujian apapun tidak pernah melebihi kemampuan kita melaluinya. Bersyukur atas setiap nikmat dengan menunaikan shalat. Kita tahu, kita paham. Hanya saja melakukan tidak semudah itu. Hanya saja mengerjakan tidak sesederhana itu. Hanya saja sabar dan shalat kita tidak pernah lebih dari pengakuan lisan dan perbuatan rutinitas.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah : 5-6).
Janji yang tidak diragukan lagi pengabulannya. Jelas tertulis dalam Alquran. Manusia, atas suluruh permasalahannya, dijanjikan kemudahan yang menyertai setiap kesulitan. Dua kali kalimat itu terlantun. Hanya saja sulit bagi kita memaknai janji itu. Kemelut gelap saat ini tidak mungkin dengan segera usai. Jalan keluar pasti masih jauh. Penderitaan masih panjang.
Begitu bukan?
Ya. Kita manusia.
Sebenarnya kita sudah tahu, kita paham.
Kita sadari beragam peristiwa terjadi di seluruh dunia. beragam cerita, berbagai hal… terkadang dengan melihat sekitar, mendengar kisah orang, memaknai kejadian, seringkali urusan kita terlihat tidak seburuk itu. Tidak separah itu. Tidak semenyedihkan itu. Kita sering mendramatisir masalah. Merasa menjadi manusia paling penuh ujian tak terperikan. Kita luput memperhatikan detail menakjubkan. Kita melewatkan jarum jam yang terus berjalan, menunjukkan bahwa kita pun sedang berada dalam proses kehidupan.
Bayi-bayi yang baru belajar merangkak, jalan, berlari,  naik sepeda, anak-anak yang akan masuk TK. merengek meminta tas, pensil, tempat bekal. anak-anak yang akan masuk SD, SMP, SMA. mereka yang mencari tempat kuliah dan  mencari pekerjaan, juga mereka yang putus sekolah dan menganggur. pasangan-pasangan baru yang menikah, pasangan-pasangan yang bercerai, liburan keluarga, arisan, pengajian, ziarah kubur,
Berjuta ibu yang melahirkan, berjuta manusia baru yang lahir ke dunia. Berjuta ayah yang masih saja berusaha mencari nafkah. Berjuta pekerjaan. Berjuta pengorbanan. Berjuta guru sedang memeriksa tugas-tugas muridnya. Berjuta dokter sedang memeriksa keadaan pasiennya. berjuta yang sakit. Berjuta juga yang sembuh. Berjuta yang akan operasi. Berjuta yang masih berusaha mengalahkan sakitnya. Berjuta semangat. Berjuta penghambaan, pengabdian, kesempatan. Berjuta kematian…
Kita akan mengenal dari orang lain keteguhan prinsip, kelapangan hati, keluasan ilmu, hangatnya kasih sayang, tentramnya pengertian, leganya pertolongan, indahnya persahabatan, kesetiaan cinta, pedihnya pengkhianatan, buruknya muka masam, bahaya amarah, ikhlasnya pengorbanan, panjangnya penantian, beningnya air mata, riangnya canda, singkatnya waktu…
Setiap episode hidup seseorang berkaitan dengan episode seseorang yang lain. Skenario yang saling terhubung, menunjukkan fenomena sebab-akibat. Tidakkah kita percaya pada Pemilik skenario paling sempurna? Tidak pernah ada kebetulan. Bahkan setiap daun yang tercerabut dari dahan sudah tertulis. Apalagi urusan manusia. Kita sungguh tahu itu semua. Kita sungguh paham. Hanya saja mengatakan, menuliskan, mendengar, dan mengiyakan tidak pernah lebih sulit daripada melaksanakan. Setidaknya kita saling mengingatkan. Tugas kita hanya taat, bukan?

 Safira Chairunnisa
Dakwatuna

Fiqih Toleransi

Perbedaan pada hakikatnya adalah suatu keniscayaan dan sudah ada sejak awal perjalanan manusia. Manusia diciptakan dengan perbedaan, baik dari sisi suku, budaya, bahasa, lingkungan maupun kebiasaannya. Secara eksplisit Allah menjelaskan dalam dalam surat Al-Hujurat ayat 13. Di samping asal muasalnya yang berbeda, manusia juga memiliki kebebasan untuk memilih apa yang menjadi keinginan dan tujuannya. Maka perbedaan adalah sebuah keniscayaan sebagai hasil dari prinsip kebebasan yang dimiliki oleh setiap manusia. Manusia terlahir dalam keadaan bebas dalam menenetukan pilihan jalannya dalam kehidupan. Dalam Asy-Syams ayat 7-10, Allah menjelaskan potensi positif dan negatif yang secara bersamaan ada pada diri manusia. Dengan demikian perbedaan merupakan sunnatullah (Yunus: 99)

Jika sudah sedemikian gamblangnya Alquran menggambarkan adanya perbedaan, maka tidak mungkin umat Islam diperintahkan untuk menghilangkan perbedaan itu, mengingat perbedaan adalah kehendak Allah. Tugas seorang Muslim kemudian adalah bagaimana menyikapi perbedaan tersebut dengan benar.

Perbedaan dalam Islam memiliki dua kategori; perbedaan pada masalah furu‘iyah dan us’uliyah. Perbedaan dalam masalah furu‘iyah adalah perbedaan yang tidak mendasar dalam Islam. Masing-masing pendapat yang berbeda memiliki argumentasi (dalil) yang menjadi rujukan. Perbedaan antara satu pendapat dengan yang lain, bukan perbedaan antara benar dan salah, akan tetapi perbedaan antara benar dan lebih benar. Sikap terhadap perbedaan furu‘iyah adalah dengan menerima perbedaan sebagai bagian dari keragaman yang pada hakikatnya adalah sama. Hal yang harus dihindari adalah jangan sampai perbedaan furu‘iyah membawa pengaruh pada perpecahan agama.

Perbedaan jenis pertama ini sudah ada sejak zaman Rasulullah dan para Sahabat. Di antara contohnya adalah: Perbedaan antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi tawanan perang Badar. Abu Bakar membolehkan tebusan atas tawanan, semantara Umar meminta untuk membunuh tawanan tersebut. Rasulullah memilih pendapat Abu Bakar yang membolehkan tawanan untuk dibebaskan dengan uang tebusan. Kemudian Allah menurunkan ayat yang membenarkan pendapat Umar. Hal ini diabadikan dalam surat al-Anfal ayat 67-69

Perbedaan lain yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah adalah; perbedaan memahami perintah Nabi pada saat menuju Bani Quraizah: “Jangan kalian shalat Ashar kecuali di kampung Bani Quraizah”! Sebagian sahabat masih dalam perjalanan ketika waktu Ashar tiba. Mereka berbeda pendapat; sebagian ingin shalat Ashar di perjalanan karena sudah datang waktunya, sebagian lain ingin tetap shalat Ashar di Bani Quraizah. Kemudian Rasulullah tidak menyalahkan salah satunya.

Jenis perbedaan yang kedua adalah perbedaan dalam masalah us’uliyah (prinsip). Perbedaan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan aqidah, atau perbedaan dalam masalah-masalah yang sudah secara jelas dan rinci dijelaskan dalam Alquran dan Hadits. Dalam menyikapi perbedaan us’uliyah adalah dengan toleransi yang bentuknya “membiarkan”.

Contoh perbedaan us’uliyah adalah dalam masalah ibadah shalat, di mana setiap Muslim diperintahkan untuk mengikuti cara Nabi melaksanakan shalat. Kemudian muncul pendapat baru yang menyatakan bahwa pada saat shalat seseorang boleh membaca surat Al-Fatihah dan artinya demi meningkatkan kekhusyu’an dalam shalat. Dalam menyikapi ini toleransinya adalah dengan membiarkan dan tidak membenarkan perbedaan tersebut.

Satu hal yang menjadi catatan adalah, agar setiap Muslim memiliki sikap yang tepat dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan yang bersifat furu‘iyah disikapi dengan membenarkan semua yang berbeda, sementara perbedaan us’uliyah perlu ada sikap toleransi yang membiarkan tanpa membenarkan. Bukan sebaliknya, menyikapi perbedaan jenis pertama dengan penuh kebencian dan pertentangan, sebaliknya pada perbedaan jenis kedua seseorang begitu ramah, toleran, dan akomodatif, bahkan kadangkala menyebut semua perbedaan itu adalah sama dan benar. Semoga Allah menuntun sikap dan bentuk toleransi yang benar kepada seluruh umat Islam di dunia.

Abdul Ghoni, M.Hum
Dakwatna

Nasib Tragis Gaji Terakhir Sang Buruh

Abdullah (39 Tahun) Pekerja Konstruksi yang datang dari Jawa Tengah dan bekerja di PT Takanaka Cikarang.

Sejak beberapa hari ini Buruh Perusahaan Konstruksi ini mengeluh sakit kepada teman-temannya. Menurut temannya, istrinya selalu menelpon dengan nada kasar, padahal Abdullah  seorang suami yang lembut kepada istrinya, Abdullah pulang sebulan sekali demi berhemat.

Pagi ini, Abdullah selalu memegang kepalanya, mengeluh sakit kepala dan panas dingin. Istrinya masih terus menerus menanyakan gaji kapan di transfer tanpa peduli dengan kesehatan Abdullah yang terkadang makan dan minumnya tidak jelas di kawasan Industri.

Abdullah sudah ingin diantar sama teman-temannya tetapi Abdullah pulang sendiri sekalian mau ke ATM buat transfer gaji seluruhnya kepada istri yang selalu dicintainya. Abdullah tidak mementingkan dirinya tetapi istri dan anak-anaknya adalah utama baginya, hanya sayangnya sang istri tak pernah mau tau kondisi Sang Suami.

Gaji Terakhir. Mungkin inilah uang bisa dikatakan untuk Abdullah, Dari Lokasi kerja menuju ATM Rumah Sakit Permata Keluarga, Berseragam Lengkap Perusahaanya.

Setelah mentransfer semua gajinya Abdullah terkapar dijalan raya dengan otak berceceran karena sebuah truk melintas dengan cepat. Sang Supir dan Truknya kabur, jasad berseragam lengkap perusahaan konstruksi itu masih menempel ditubuhnya yang terkapar tak bernyawa.

Seakan-akan Abdullah ingin mengatakan “Istriku sayang, ini gaji mas yang terakhir, titip anak-anak, mas kuat disini”

Menurut rekan kerjanya, Abdullah jarang makan, Abdullah selalu berhemat demi istri dan anak-anaknya.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…”

Haddad Assyarkhan salah satu relawan yg membantu security menuturkan, “1 Jam saya dilapangan membantu security menepikan kendaraan yang lewat, sambil mengumpulkan informasi tentang Abdullah ini. Saya engga kuat memfoto dari dekat karena kepalanya berceceran.”

“Saya terenyuh dengan Kisah Buruh ini, Betapa perjuangannya menghidupi kekuarga walau tidak dihargai istrinya tak menyurutkan langkahnya untuk terus membahagiakan mereka yang hanya bisa ditemuinya satu kali dalam sebulan atau bahkan dua bulan sekali.” sambungnya.

“Masihkah para istri tidak menghargai suaminya? Ingat! Ketika Seorang Pria memutuskan menikah maka itu adalah keputusan terbesar dalam hidupnya dan itu pertanda dia siap bertanggungjawab dengan keputusannya itu. Dan dia itu adalah Abdullah.” pungkasnya.

Masya Allah……

By Haddad Assyarkhan
(@assyarkhan)
PKS Cibitung

Berasku Sayang Berasku Hilang

Oleh: Asma Nadia

Beras habis!
Beras hilang!
Beras Mahal!
Rasanya aneh jika di negara yang mayoritas penduduknya adalah pemakan nasi, beras bisa habis dan sulit dicari dimana-mana.

Kebutuhan beras terukur setiap hari, setiap minggu, setiap  bulan. Dengan metode yang paling sederhana pun kebutuhan sebagian besar masyarakat Indonesia akan beras sebetulnya bisa dihitung, sebab beras merupakan hal pokok yang nyaris tak bisa ditinggalkan.

Beras bukan kebutuhan yang bersifat insidentil, pun bukan kebutuhan musiman, bukan pula barang yang susah didapat jika Pemerintah sejak awal memiliki niat baik untuk memenuhi kebutuhan ril rakyatnya.

Dalam keadaan normal, seharusnya semua bisa dideteksi dan diantisipasi.
Tidak mungkin ada peningkatan drastis atas kebutuhan beras karena sifat konsumsinya. Lalu bagaimana mungkin beras bisa habis dan sulit dicari di mana-mana?
“Ada kok, masih banyak yang jual!” kata seseorang yang ingin menyanggah hilangnya beras dari pasaran.

Ya, memang ada. Tapi tidak dengan harga normal. Melainkan dengan harga persediaan terbatas.

Kejadian ini mengingatkan saya pada pelajaran di Sekolah Dasar yang sangat umum yaitu tentang kebutuhan dasar manusia.

“Kebutuhan dasar manusia dibagi menjadi tiga bagian, sandang, pangan dan papan. Sandang adalah pakaian, pangan adalah makanan dan papan adalah rumah,” kata guru SD saya suatu hari.

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya urutan berdasarkan prioritas yang benar adalah Pangan, Sandang, Papan.
Jadi jelas pangan merupakan kebutuhan utama.

Jika diurutkan lagi maka dalam pangan ada macamnya.
Makanan pokok dan lauk pauk.
Makanan pokok harus ada, lauk pauk bisa diabaikan jika terpaksa.
Makanan pokok, buat sebagian besar bangsa Indonesia berarti beras.
Singkatnya dari semua kebutuhan manusia indonesia, kebutuhan paling mendasar adalah beras.

Papan? Rakyat Indonesia bisa tinggal di mana mereka tinggal sekarang.
Sandang? Manusia indonesia bisa pakai baju yang mereka pakai sekarang,
Tapi begitu tidak ada beras? Jelas masalah besar.

Beras berbeda dengan papan dan sandang, bukan kebutuhan yang bisa dipakai ulang. Sekali habis harus ada persediaan baru.

Beras adalah kebutuhan mendasar yang harus menjadi perhatian utama penyelenggara negara.

Idealnya swasembada beras. Jika tidak, cukup buka keran impor sambil tetap memperjuangkan swa sembada. Jika sampai beras saja bisa terabaikan, bisa menjadi indikasi akan banyak hal lain yang terabaikan.

Kelangkaan beras harus menjadi perhatian penuh pemerintah, karena menyangkut kebutuhan dasar.

Operasi pasar harus disikapi sebagai langkah darurat dan sementara saja, bukan dan tidak bisa dijadikan kebijakan andalan –apalagi sekedar cari simpati dan jaga imej- setiap kali ada masalah beras.

Jika tata dagang beras terkontrol dengan baik tidak perlu ada operasi pasar.
Raskin? Sepertinya banyak masyarakat papa yang mengeluh beras raskin sangat kotor, menguning ketika dicuci dan keras ketika ditelan, dan yang lebih parah banyak mengandung kutu dan jamur yang jauh dari layak untuk dikonsumsi.

Mungkin kita lupa,  perbedaannya masyarakat miskin hanya soal penghasilan yang lebih sedikit dari mereka yang mapan. Terkait  lidah dan selera tetap sama. Meski tidak punya banyak pilihan tetapi jelas mereka bisa membedakan beras yang masih baik dan enak ketika dimakan atau tidak.

Dengan kata lain Bulog juga harus menjaga kualitas beras kita, jangan ditumpuk lama hingga rusak atau membeli  asal-asalan. Semoga saja perhatian penuh pemerintah mampu  memastikan hal memalukan ini (mengingat Indonesia pun negara agraris)  tidak kembali terulang. (rol)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang